Pertanian Terpadu Sapi-Kelapa Sawit

pemberian pakan berupa bungkil kelapa sawit

pemberian pakan berupa bungkil kelapa sawit

Beternak sapi identik sebagai usaha budidaya yang kurang menguntungkan. Pertambahan bobot ternak lamban karena pemberian pakan umumnya kurang variatif. Belum lagi kandang becek dan bau kotoran. Ternak dihinggapi pacet dan sejumlah jenis serangga pengisap darah. Penyakit kerap muncul jika sapi tak dirawat telaten.

Dengan harga bibit yang relatif mahal, sekitar Rp 6 juta per ekor, sapi jantan umumnya layak dijual setahun kemudian, dengan potensi harga yang bertambah 30 – 50 persen saja dari nilai pembelian. Walaupun harga daging sapi kini sedang mahal-mahalnya, keuntungan tidak serta merta dirasakan petani. Dengan upaya perawatan ternak intensif serta biaya-biaya tambahan untuk mendongkrak bobot dan protein ternak, bisa dibilang beternak sapi hanya dianggap sebagai tabungan keluarga. Sapi dijual ketika petani sedang butuh uang dalam jumlah besar untuk membayar biaya sekolah atau menikahkan anak. Namun, sapi kurang menggiurkan sebagai sebuah usaha kecuali bagi pedagang yang hanya melakukan bisnis jual beli sapi.

Itulah yang terjadi ketika petani menjalankan model lama gambaran diatas. PT Perkebunan Negara (PTPN) VI tengah merintis budidaya sapi dengan metode lain yang hasilnya diyakini lebih menguntungkan. Perusahaan mengelola sapi secara terintegrasi dengan perkebunan sawit setempat. Mereka menyebutnya program integrasi sawit sapi (ISS). Ada hubungan saling menguntungkan diantara kedua jenis budidaya ini. Bagaimana hubungan itu bisa memberikan keuntungan lebih ? Sejak ISS digagas Kementerian BUMN setahun lalu, PTPN VI mendapat alokasi untuk beternak 10.000 sapi di areal perkebunan inti perusahaan. Sekitar Rp 3 Miliar sudah dikeluarkan untuk menjalankan program  ini. Sebuah nilai yang besar dan sulit dijalankan bagi kalangan perorangan ataupun kelompok petani. Namun, Kepala Urusan Perencanaan dan Analisis Proyek PTPN VI Irvan meyakini metode ini akan menguntungkan dalam jangka  panjang. Biaya besar memang keluar untuk investasi awal antara lain membangun kandang dan membeli mesin pengolah pakan. Selanjutnya, ISS justru mendatangkan keuntungan.

Pakan sapi tidak harus berupa rumput hijauan. Pelepah dan bungkil sawit yang awalnya tidak termanfaatkan, kini sudah bisa menjadi pakan alternatif sapi yang bernilai tinggi. Di perkebunan sawit, pelepah dan bungkil biasanya membusuk begitu saja dilahan walaupun dalam jangka panjang akan berproses alami menjadi pupuk. Saat ini terdapat 1700 ekor sapi dalam kandang ISS. Setiap hari, satu ekor sapi di kompleks ISS Maro Sebo membutuhkan 10 kilogram pakan yang terdiri dari batang pelepah sawit dan bungkil serta campuran ampas ubi kayu, dedak, dan tetes tebu. Sebanyak 85 persen bahan diperoleh dari kebun sawit. Hasilnya, bobot sapi bertambah dari sebelumnya 0,8 kilogram per hari menjadi 1 kilogram per hari. Sapi dapat dipanen dalam jangka waktu enam bulan saja dengan nilai jual rata-rata Rp 10 juta dalam bobot total diatas 300 kg.

Mengapa bobotnya bertambah sedemikian signifikan? karena melalui pemanfaatan jenis-jenis pakan ini terjadi peningkatan volume daging sapi. sapi memperoleh asupan protein yang lebihi tinggi dibandingkan jika mengonsumsi rumput hijauan semata. Tidak hanya itu, tandan kosong sawit juga dimanfaatkan sebagai alas kandang. Tandan diolah menjadi fiber yang berfungsi menyerap air. Walaupun sapi membuang kotoran dan kencing dalam kandang, hamparan lantai tetap kering. Dengan demikian, kotoran tidak menempel pada badan walaupun ternak ini merebahkan badan. Tumpukan kotoran tersebut malah memberikan kehangatan bagi sapi, kulit sapi tetap bersih tanpa perawatan tambahan.

Kandang pun relatif kering dan wangi minyak sawit. Ditambah lagi pemanfaatan fiber pada atap kandang menjadikan suhu lebih hangat. Hampir tidak ada lalat penghisap darah ataupun pacet disana. Kondisi ini berbeda dengan kandang sapi pada umumnya. Dalam kondisi kandang bersih, hangat, dan nyaman tinggal, pertumbuhan sapi menjadi lebih cepat. Selanjutnya kotoran sapi dipanen satu bulan sekali dan langsung siap menjadi pupuk. Saat ini, produksi pupuk organik yang mencapai 100 ton per hari sudah dimanfaatkan untuk pemupukan campuran pada 300-an hektar tanaman sawit dikebun inti PTPN VI.  Nilai jual pupuk yang mencapai Rp 1250 /kg menguntungkan perusahaan. Dengan terus menambah jumlah sapi menjadi 10.000 ekor hingga tiga tahun ke depan, produksi pupuk organik diperkirakan mencapai 500 ton per hari. Melalui penjualan pupuk organik ke divisi perkebunan, keuntungan dapat mencapai lebih dari Rp 600 juta per hari.

Biaya pemupukan sawit dengan memanfaatkan pupuk organik memungkinkan penghematan hingga Rp 10 miliar / tahun. Berawal dari situ, PTPN tertarik membangun pabrik pupuk NPK majemuk organik pada tahun depan. Produksi pupuk organik akan menggantikan 10 persen kebutuhan pupuk tanaman sawit di perkebunan inti PTPN. kelemahan program ISS, sejauh ini, masih sulitnya memperoleh bibit dalam kuantitas besar. PTPN sebelumnya memesan 2000 bibit dari Lampung, tetapi stok setempat kini terbatas. Pihaknya harus mencari bibit sapi hingga ke wilayah jawa. Terlepas dari kesulitan yang ada, program ini layak dilanjutkan. Syaratnya adalah terbukanya pasar, baik untuk bibit maupun hasil panen. Dengan demikian, target nasional atas swasembada daging bisa tercapai dengan cepat. Itu tidak mustahil. @Garrybaldhi

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: