Oase Di Perbukitan Kapur

Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, selalu identik dengan kekeringan. Namun, hal tersebut terbantahkan begitu memasuki Kecamatan Ponjong.

Berbeda dengan wilayah Gunung Kidul lainnya, Ponjong memiliki sumber air berlimpah yang menjadikan petani dianugerahi panen tiga kali setahun. Dengan potensi air yang berlimpah, di kecamatan ini juga dibangun wahana wisata air yang disebut Waterbyuur. Kondisi Geografis Ponjong sangat berbeda dengan daerah lain di Gunung Kidul. Memasuki kawasan ini akan terlihat hamparan sawah nan hijau di kanan dan kiri jalan. Pemandangan semacam ini tidak hanya terlihat di musim penghujan, tetapi juga pada musim kemarau.

Berkah melimpah itu tak lepas dari keberadaan dua mata air utama, yaitu Dam Beton dan Sumber Ponjong. Kelimpahan air itu juga dirasakan warga Desa Ponjong. Di Desa Ponjong sejak dahulu kala air dari sumber Ponjong selalu mengalir dengan debit rata-rata 60 liter per detik. Setiap hari sumber Ponjong mampu mengaliri 80 hektar sawah, 30 kolam milik warga, dan mencukupi kebutuhan untuk minum, mandi, dan mencuci bagi warga Ponjong. Namun meski dimanfaatkan terus-menerus oleh warga, sumber mata air itu tak pernah surut.

Bangun Waterbyuur

Tahun 2009, desa Ponjong mendapatkan bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri perkotaan sebesar Rp 1 miliar. Berdasarkan serapan aspirasi masyarakat, sebanyak 11 dusun di desa Ponjong sepakat memanfaatkan dana itu untuk pembangunan sumber Ponjong. Konsep pembangunan sumber Ponjong sederhana, yaitu memanfaatkan potensi air yang melimpah agar lebih efektif dan efisien. Setelah melalui sejumlah pembahasan, warga sepakat membangun wahana wisata air atau waterboom berukuran kecil, bernama waterbyuur. Dana Rp 1 miliar dari PNPM Mandiri perkotaan dibagi tiga pos, yaitu Rp 700 juta untuk pembangunan fisik, Rp 200 juta untuk perencanaan desain, dan Rp 100 juta untuk pemasaran. Pembangunan proyek desa ini dimulai pada peralihan tahun 2011 ke 2012.

Pembangunan waterbyuur tetap melibatkan swadaya masyarakat. Sesuai kemampuan masing-masing, warga menyumbang berbagai material, seperti batu, pasir, atau semen. Enam bulan setelah dibangun, Waterbyuur Ponjong dibuka pada awal juni 2012. Sumber mata air yang awalnya hanya berupa kolam alam untuk mandi dan mencuci disulap menjadi wahana wisata air di atas lahan kas desa seluas tiga hektar. Bentuk fisik waterbyuur memang tidak semegah wahana wisata air modern ternama di Jakarta dan sekitarnya. Namun, bangunan baru itu kini lebih cantik dengan kolam renang besar dan arena bermain di bagian tengahnya. Dalam beberapa menit, tong air raksasa diatas kolam secara otomatis terisi air dan tumpah mengguyur pengunjung. Setelah terkena guyuran air, Pengunjung bisa terjun ke kolam dengan papan luncur.

Pengisian tong air raksasa tidak memakai pompa air listrik atau diesel, tetapi hidran otomatis dengan penggerak tekanan air yang tidak membutuhkan listrik atau bahan bakar minyak. Pengoperasian wahana air itu menjadi lebih hemat. Kolam besar Sumber Ponjong dibagi dalam tiga bak. Bak pertama berada di mata air, bak kedua dipakai warga untuk mengambil air, mencuci, dan mandi serta bak ketiga diperuntukkan khusus untuk wahana permainan air. Agar hiburan lebih beragam, pengelola waterbyuur menyediakan permainan air seperti flying fox, taman dan perahu berbentuk bebek.

Tempat hiburan baru bagi warga Gunung Kidul ini tepat berlokasi di samping Balai Desa Ponjong.

Pemasukan Desa

Di Waterbyuur Ponjong, hanya dengan membayar Rp 20.000 pengunjung bebas bermain sepuasnya. Mereka juga bisa menjajal flying fox dengan meluncur dari ketinggian 15 meter. Pengunjung juga masih disuguhi satu permainan lagi, yaitu berperahu mengelilingi kolam. Begitu dibuka, wahana air yang dikelola 10 orang ini langsung dibanjiri pengunjung. Dalam sebulan, tempat ini mampu mengumpulkan omzet Rp 12 juta. Dari pemasukan ini, 60 persen dana dipakai untuk gaji pengelola dan 40 persen lainnya untuk pemasukkan desa, BUMDes, Badan Keswadayaan Masyarakat, dan pemasukan tiap dusun. Jumlah pemasukan itu belum seberapa, tetapi BUMDes telah membuat cetak biru pengembangan Sumber Ponjong yang diharapkan mampu menjadikan tempat ini sebagai daerah tujuan wisata andalan. Dari rancangan pengembangan mikro Desa Ponjong, tempat wisata air ini akan dilengkapi dengan tempat makan, daur kuliner, saung, perpustakaan, taman bermain, tempat istirahat, kamar mandi, area pembibitan, hingga tempat sampah. Semua proyek ini akan dikerjakan oelh warga Desa Ponjong dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Melihat potensi Ponjong yang menjanjikan, beberapa saat lalu ada investor swasta yang berniat mengembangkan waterbyuur. Namun, tawaran ini langsung ditolak warga setempat karena dengan pengelolaan bisnis murni dikhawatirkan warga tak lagi diberdayakan. Mereka tak mau mata air yang menjadi penghidupan selama puluhan tahun itu “dikuasai” oleh pemodal. Dengan pengelolaan yang serius, Sumber Ponjong yang awalnya hanya kolam kecil berubah menjadi tempat wisata.

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: