Perubahan Iklim : Dampak dan Pentingnya Indonesia Beradaptasi

Lelehnya Es di Kutub Utara

Apa itu Perubahan Iklim ?


Perubahan iklim adalah perubahan rata-rata cuaca bumi dalam jangka panjang yang terjadi sebagai akibat atas reaksi-reaksi terhadap berbagai perubahan (baik langsung maupun tidak langsung) pada unsur-unsur iklim dan unsur-unsur pendukung eksternal, seperti fenomena alam dan kegiatan manusia. Iklim berubah, pertama karena pemanasan global yang merupakan kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Penyebab utama pemanasan global ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepaskan karbondioksida (CO2), metana (CH4) dan dinitroksida (N2O) dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer.  Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi. Rata-rata temperatur permukaan bumi sekitar 15 derajat Celcius. Selama seratus tahun terakhir, temperatur ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celcius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuwan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4 – 5,8 derajat Celcius (2,5 – 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100.

Penyebab kedua adalah penipisan lapisan ozon. Lapisan ozon dalam atmosfer bumi mempunyai peranan penting sebagai penyaring sinar ultraviolet yang dihasilkan oleh matahari. Salah satu jenis gas rumah kaca yang berkontribusi dalam penipisan lapisan ozon adalah CFCs atau sering disebut dengan istilah freon. Sampai saat ini kerusakan lapisan ozon berupa timbulnya lubang ozon (Ozone Hole), telah terjadi di langit kutub selatan. Lubang ozon ini akan terus melebar jika tidak ada tindak nyata lebih lanjut dalam menanggapi permasalahan ini. Publikasi Max Planck Institute menyebutkan, 35% dari kerusakan lapisan ozon terjadi akibat proses kimia yang kompleks. Bersamaan dengan terbentuknya awan stratosfer kutub pada musim dingin, lubang ozon akan membesar. Awan stratosfer tersebut akan menghilang pada musim panas, dan pada saat itulah lubang ozon akan mengecil. Akan tetapi, udara dipermukaan bumi akan menjadi lebih panas akibat efek rumah kaca yang ditimbulkan oleh polusi. Sementara itu pada saat yang sama, suhu udara di atmosfer tetap dingin. Sebagai konsekuensi, awan stratosfer akan bertahan lebih lama, dan ini membuat lubang ozon menjadi semakin membesar.

Selain karena meningkatnya emisi gas-gas rumah kaca dan penipisan lapisan ozon di atmosfer, meningkatkan suhu bumi menjadi lebih parah karena dunia juga banyak kehilangan pohon yang banyak meyerap karbon dioksida sehingga proses fotosintesis karbon dioksida berfungsi sebagai ‘rosotan’ (sinks) atau ‘penyerapan’ (sequestration) karbon pun berkurang drastis. Kehancuran hutan Indonesia misalnya, dari tahun ke tahun berlangsung makin cepat saja, dari 600.000 hektar per tahun pada tahun 1980an menjadi sekitar 1,6 juta hektar per tahun di penghujung tahun 1990an. Akibatnya tutupan hutan menurun secara tajam dari 129 juta hektar pada tahun 1990 menjadi 82 juta di tahun 2000 dan diproyeksikan menjadi 68 juta hektar di tahun 2008, sehingga kini setiap tahun Indonesia terus mengalami penurunan daya serap karbon dioksida.

salah satu penyebab pemanasan global

Dampak Perubahan Iklim di Indonesia

Indonesia telah mengalami perubahan iklim. Efeknya pun telah dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia. Dalam jurnal UNDP Climate Change Inside , disebutkan bahwa iklim di Indonesia banyak dipengaruhi oleh ‘El Nino-Southern Oscillation’ (ENSO), yaitu perpaduan dari fenomena El Nino, La Nina, dan ‘Osilasi Selatan’ (Southern Oscillation). ‘El Nino menyebabkan perubahan arus laut di Samudera Pasifik yang berdampak pada perubahan suhu air laut menjadi luar biasa hangat. Sebaliknya perubahan arus laut menjadi sangat dingin disebut La Nina. Dalam hal ini, La Nina berkaitan dengan ‘Osilasi Selatan’ (Southern Oscillation), yaitu perubahan tekanan atmosfer di wilayah selatan. El Nino-Southern Oscillation (ENSO) inilah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya berbagai cuaca ekstrim di Indonesia.

Selain ENSO, lokasi dan pergerakan siklon tropis di wilayah selatan timur Samudera India (Januari sampai April) dan sebelah timur Samudera Pasifik (Mei sampai Desember) juga berpengaruh terhadap iklim di Indonesia. Angin kencang dan curah hujan tinggi selama berjam-jam atau bahkan sampai berhari-hari dapat terjadi di beberapa bagian wilayah Indonesia. Disamping itu, angin kencang juga sering terjadi selama peralihan angin muson (angin musim hujan) dari arah timur laut ke barat daya.

Dalam kurun waktu 7 tahun dari 1998-2004, telah terjadi sekitar 1210 kejadian bencana dengan 402 kali banjir, 102 kali angin topan, 294 kali tanah longsor, 51 kali kbakaran hutan, 192 kali kebakaran, dan 169 kejadian bencana lainnya dengan kerusakan hampir diseluruh propinsi di Indonesia.

Akibat ketidakteraturan dalam pola iklim dan curah hujan, diperkirakan di masa yang akan datang sebagian wilayah Indonesia terutama di sebelah selatan khatulistiwa, dapat mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan musim hujan yang lebih pendek disertai dengan curah hujan yang lebih tinggi. Disaat terjadi peningkatan suhu, ini akan berdampak terhadap menurunnya kelembaban tanah dan sumber air tanah, yang kemudian akan diikuti dengan degradasi lahan, dan pada akhirnya mengakibatkan banyak lahan berubah menjadi gurun tandus.

Masyarakat umum Indonesia saat ini telah semakin merasakan dampak dari perubahan iklim yang terjadi dewasa ini. Pergantian cuaca yang tidak menentu mempengaruhi kondisi dan stamina kesehatan masyarakat, dimana hal ini menyebabkan banyak orang yang menjadi rentan terhadap penyakit. ditambah lagi, kenaikan suhu udara akan mengubah pola-pola vegetasi dan juga penyebaran serangga seperti nyamuk yang akan mampu bertahan di wilayah-wilayah sebelumnya terlalu dingin untuk perkembangbiakan mereka, selain itu stres akibat cuaca yang panas, alergi, penyakit pernapasan (udara panas memperbanyak polutan, spora old, dan serbuk sari di udara), dan penyakit tropis lain seperti demam kuning dan  enchepalitis akan banyak menjangkiti masyarakat dunia.

Masyarakat pesisir, dalam hal ini, tentu saja adalah salah satu pihak yang berada dalam posisi sulit bilamana terjadi perubahan iklim. Merekalah yang pertama kali akan terancam bahaya air pasang, bahkan pada akhirnya kehilangan tempat tinggal akibat penyusutan daratan yang disebabkan oleh peningkatan permukaan air laut. Kenaikan permukaan air laut akan mempercepat erosi di wilayah pesisir, memicu intrusi air laut ke air tanah, merusak lahan rawa di pesisir, dan menenggelamkan pulau-pulau kecil. Bagi para nelayan, mereka akan terancam kehilangan mata pencaharian mereka sebagai nelayan jika kondisi lautan semakin lama semakin menunjukkan bahaya badai. Ditambah lagi, peningkatan suhu air laut dapat mencegah perkembangbiakan plankton dan mengurangi persediaan makanan ikan, yang mengakibatkan migrasi beberapa spesies ikan. Keadaan ini akan semakin mempersulit kehidupan para nelayan Indonesia.

Sementara itu dalam sektor pertanian, tidak dapat dipungkiri, bahwa sebagai negara agraris, Indonesia sangat bergantung pada sektor pertanian. Sementara itu, pertanian sangat bergantung pada iklim, sehingga jika timbul ketidakseimbangan dalam iklim, akan terjadi ketidakstabilan pada pertanian. Sebagai contoh, selama kurun waktu 1960-1990 dan 1991-2003 disebagian besar wilayah Sumatera terjadi keterlambatan awal musim hujan antara 10 hingga 20 hari dan 10 hingga 60 hari untuk awal musim kemarau yang berdampak terhadap aktivitas pertanian diwilayah itu. Ditambah lagi, sebagian besar petani Indonesia sampai saat ini masih menerapkan sistem pertanian tradisional, dimana dalam penerapannya sistem pertanian ini sangat mengandalkan iklim.

Perubahan iklim banyak memberi dampak terhadap ketahanan pangan Indonesia. Ini ditandai dengan penurunan luas lahan dan produktivitas tanaman pertanian, terutama di wilayah pesisir pantai akibat peningkatan permukaan air laut. Total tanaman padi yang terendam banjir pada tahun 1995 hingga 2005 berjumlah 1.926.636 ha (471.711 ha diantaranya mengalami puso). Sementara itu, sawah yang mengalami kekeringan pada kurun waktu yang sama berjumlah 2.131.579 ha (328.447 ha diantaranya gagal panen). Berlanjut ke tahun 2006, dari 577.046 ha sawah yang terkena banjir dan kekeringan, 189.773 ha tanaman padi mengalami gagal panen. Dengan rata-rata produksi 5 ton gabah per hektar, gabah yang terbuang akibat kekeringan dan banjir pada tahun 2006 mencapai 948.865 ton.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri, musim tanam pada tahun 2006 mengalami kemunduran dan hujan mulai turun pada tahun 2007 (sekitar 6.452 ha lahan tani hilang). Musim hujan yang tidak menentu mulai terjadi dan mengakibatkan penyusutan lahan. Pada tahun 1989 telah terjadi penyusutan lahan sebesar 52.500 ha, dan 59.500 ha pada tahun 2000. Fungsi lahan sawah mencapai 182,26 ha (0,32%) per tahun dengan kondisi ini secara rata-rata DIY kehilangan produksi sekitar 20.778 ton. Pengurangan serta penurunan kualitas hasil produksi pertanian ini pada akhirnya akan menimbulkan dampak berkesinambungan terhadap kesejahteraan para petani dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Mari Beradaptasi

Sekarang bagaimanakah masyarakat Indonesia dapat beradaptasi ? UNDP Indonesia menegaskan bahwa pilihan utama masyarakat Indonesia (utamanya masyarakat miskin) dalam beradaptasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim adalah menguatkan pemahaman dan kemampuan mereka untuk merespon secara efektif, membantu mereka menjadi lebih tangguh terhadap berbagai tekanan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang muncul akibat perubahan iklim.

Yang Manakah Mitigasi dan Mana Pula Adaptasi ?

Ketika membicarakan mengenai perubahan iklim, para ilmuwan mungkin menggunakan kata-kata yang sangat berbeda dari makna kata itu pada umumnya. Bila mereka menyebut ‘mitigasi’ sehubungan dengan perubahan iklim, misalnya yang mereka maksudkan adalah tindakan-tindakan untuk mengurangi emisi gas-gas rumah kaca. Bila mereka bicara mengenai ‘adaptasi’, yang mereka maksudkan adalah tindakan untuk mengatasi berbagai dampak perubahan iklim.

Namun, dalam pengertian umum, kita bisa saja spontan menggunakan istilah ‘mitigasi’ dan ‘adaptasi’ secara tertukar misalnya, membicarakan mengenai ‘memitigasi efek perubahan iklim’ di Indonesia. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan tetapi biasanya maksudnya sudah jelas. Dan apapun yang terjadi, kita harus melakukan keduanya, terlepas dari apapun kita menyebutnya.

Sudah jelas, emisi gas-gas rumah kaca mesti diturunkan, sehingga mitigasi merupakan keharusan. Ini terutama menjadi urusan negara-negara maju dan negara-negara berkembang yang pertumbuhannya pesat yang perlu mengubah cara mereka menggunakan bahan bakar fosil. Itulah sebabnya banyak negara menandatangani Protokol Kyoto dalam Konvensi tersebut, yang berarti memberikan komitmen mereka masing-masing untuk menargetkan pengurangan emisi gas-gas rumah kaca. Namun mitigasi saja tidak akan memadai. Bahkan seandainya pun banyak negara menemukan cara untuk mengurangi emisi, kita tetap perlu mengatasi berbagai efek emisi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun yang lalu sebab iklim baru berubah dalam kurun waktu yang panjang. Maka kita tidak punya pilihan lain, adaptasi tidak hanya penting, tetapi juga tak terelakkan.

senyawa metana merupakan salah satu gas rumah kaca

Seluruh Departemen Pemerintahan dan Badan Perencanaan Nasional perlu mempertimbangkan dampak perubahan iklim ini kedalam program masing-masing. Berbagai persoalan besar seperti pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, perencanaan tata ruang, ketahanan pangan, pemeliharaan infrastruktur, pengendalian penyakit, perencanaan perkotaan, semua mesti ditinjau ulang dari perspektif perubahan iklim. Dampak perubahan iklim terhadap ekonomi dan pembangunan manusia harus dievaluasi secara seksama dan dipetakan. Kemudian strategi adaptasi yang mencakup penguatan sumber-sumber penghidupan dan mengurangi kerentanan masyarakat terhadap perubahan iklim harus diintegrasikan ke dalam berbagai rencana dan anggaran, baik pada tingkat pusat maupun daerah. Secara khusus adaptasi juga sangat penting dilakukan dalam bidang-bidang pertanian, wilayah pesisir, penyediaan air, kesehatan dan wilayah perkotaan, dengan air memainkan peran lintas sektoral diberbagai bidang ini.

Adaptasi dalam Pertanian

Diantara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim adalah para petani Indonesia. Mereka, misalnya akan perlu mempertimbangkan berbagai varietas tanaman pangan. Beberapa jenis tanaman pangan memiliki kapasitas adaptasi secara ilmiah, seperti jenis padi hasil persilangan yang berbunga pada waktu dini hari sehingga dimungkinkan terhindar dari suhu lebih tinggi di siang hari. Para petani juga mungkin dapat menggunakan varietas yang lebih mampu bertahan terhadap kondisi yang ekstrem misalnya kemarau panjang, genangan air, intrusi air laut atau berbagai varietas padi yang lekas matang yang cocok untuk musim hujan yang lebih pendek. Para petani juga perlu mengupayakan cara-cara untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan bahan-bahan organik bagi tanah supaya lebih mampu menahan air yaitu dengan menggunakan lebih banyak pupuk alamiah. Prioritas lainnya adalah pengelolaan air yang lebih baik. Caranya mungkin adalah dengan lebih banyak berinvestasi untuk irigasi dan juga dalam menampung dan menyimpan air untuk menyeimbangkan peningkatan curah hujan di bulan April, Mei, dan Juni dengan penurunan curah hujan di bulan Juli, Agustus, dan September.

Para petani pun akan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim bila mereka memiliki perkiraan cuaca yang akurat dan tahu bagaimana harus merespon perubahan itu. Jika, misalnya, mereka dapat menyesuaikan waktu tanam dengan turun hujan pertama, mereka akan dapat memanen hasil yang lebih baik karena tanaman pangan mereka memperoleh lebih banyak unsur penyubur. Atau jika mereka tahu tahun itu akan menjadi tahun kemarau, maka mereka dapat mengganti tanaman pangan, mungkin dengan menanam tanaman kacang hijau, dan bukan padi. mereka juga dapat beralih ke tanaman pangan yang lebih tinggi nilai jualnya meski hal ini bergantung pada kualitas benih dan masukan serta berbagai bantuan tambahan. Mereka juga dapat melakukan penyesuaian antara menanam tanaman pangan dan memelihara ternak.

Akhirnya, para petani yang tengah menghadapi atau sudah mengalami tahun gagal panen, dapat beradaptasi dengan bekerja dibidang non pertanian, mungkin dengan bermigrasi sementara ke daerah lain atau ke kota lain. Selain langkah-langkah adaptasi diatas, penanaman kembali hutan atau pengalihan air antar waduk, merupakan tindakan adaptasi jangka panjang yang harus dilakukan.

Adaptasi di Wilayah Pesisir

Lingkungan pesisir seperti wilayah delta pasang-surut dan pantai-pantai berpasir di pesisir yang rendah letaknya, serta pulau-pulau penyangga, wilayah rawa pesisir, muara, laguna, dan wilayah terumbu karang dan atol dapat ditimpa ancaman lebih berat. Seluruh lingkungan ini akan terancam oleh naiknya muka air laut. Dihadapkan pada berbagai efek perubahan iklim ini, masyarakat di wilayah pesisir memiliki tiga strategi dasar yaitu berlindung, mundur, atau melakukan penyesuaian.

  • Membuat Perlindungan : Untuk perlindungan, pilihan yang tampaknya paling meyakinkan barangkali adalah mendirikan bangunan yang kokoh seperti tanggul dilaut. Namun selain sangat mahal tindakan ini dapat memberikan efek samping seperti erosi dan sedimentasi. Karena itu, umumnya ada berbagai pilihan yang lebih lunak seperti menciptakan atau memulihkan wilayah rawa pesisir dan menanam berbagai varietas mangrove dan vegetasi yang dapat mengatasi perubahan salinitas yang ekstrem.
  • Mundur : Mundur hanya soal pindah tempat saja. Kebanyakan para pemilik rumah dan bisnis dapat melakukannya dengan upaya mereka sendiri, meski pemerintah setempat juga akan berperan dalam menetapkan “wilayah untuk mundur” yang mempersyaratkan pembangunan baru dilakukan dalam jarak tertentu dari sisi laut.
  • Melakukan Penyesuaian : Melakukan penyesuaian dapat dilakukan dengan berbagai cara. Barangkali, misalnya, dengang membiakkan berbagai jenis ikan ke muara, wilayah mulut sungai dan laguna, serta mengembangkan berbagai bentuk akuakultur yang baru. Masyarakat pesisir juga akan membutuhkan sistem peringatan yang lebih baik untuk berbagai peristiwa cuaca ekstrim disertai rencana evakuasi kedaruratan untuk relokasi bila terjadi kedaruratan mendadak.

Hutan Bakau bisa dimanfaatkan sebagai penahan abrasi  pantai

Adaptasi Untuk Penyediaan Air

Perubahan iklim kemungkinan memberikan dampak berat pada pelayanan penyediaan air baik terhadap pasokan maupun permintaan. Dalam hal pasokan, kecenderungan perubahan pola curah hujan akan berimplikasi terhadap produksi pangan, transportasi air dan berbagai sumber mata pencaharian yang mengandalkan air. Dalam soal permintaan, pemanasan global akan meningkatkan kebutuhan air masyarakat dan mempercepat penguapan dari permukaan tanaman dan dari sumber-sumber air seperti kolam dan danau.

Suatu pendekatan yang paling menyeluruh adalah dengan memelihara berbagai sarana pemasok air yang disebut dengan istilah ‘pengelolaan air secara terpadu’ yang menekankan pentingnya memelihara kelestarian ekosistem. Pendekatan ini perlu mempertimbangkan berbagai persoalan seperti penggundulan hutan, pengelolaan air untuk irigasi dan hubungan keduanya, serta pengurasan air tanah untuk keperluan rumah tangga, bisnis, dan pertanian.

Beberapa pilihan untuk menjamin pasokan air antara lain adalah dengan meningkatkan pasokan, memperbaiki waduk, misalnya menambal saluran, atau menampung air hujan. Pilihan lain adalah dengan mengurangi kebutuhan antara lain ialah dengan mengurangi kebocoran dari pipa-pipa atau melakukan lebih banyak upaya untuk memproses air limbah menggunakan ‘infrastruktur ramah lingkungan’ seperti saringan pasir dan pengelolaan air limbah dengan tanaman rawa (lahan basah).

Di Indonesia banyak waduk menampung air lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk kebutuhan manusia, sementara di tempat lain mengalami kekurangan yang parah, terutama waduk-waduk di Jawa dan Nusa Tenggara. Dalam kasus-kasus seperti ini, pengalihan air antar waduk akan dapat menyeimbangkan distribusi air dari wilayah yang berkelebihan ke daerah yang mengalami defisit.

Adaptasi Untuk Bidang Kesehatan

Banyak aspek kesehatan manusia dipengaruhi oleh iklim. Suhu tinggi dapat menyebabkan renjatan panas atau banjir dan longsor dapat mengakibatkan kematian atau cidera. Bisa juga pengaruh secara tidak langsung, lingkungan yang berubah mempercepat penyebaran penyakit yang disebabkan infeksi atau kekurangan air dapat mengganggu sistem kebersihan atau mengurangi hasil tanaman pangan yang kemudian dapat mengakibatkan kurang gizi. Untuk mencegah dampak fisik bencana secara langsung, dalam beberapa kasus resiko dapat dikurangi dengan reforestasi (penghutanan kembali). Seluruh masyarakat juga perlu menetapkan zona-zona yang beresiko terhadap banjir dan longsor dan membuat rencana untuk sistem peringatan dini untuk evakuasi.

Banyak tindakan adaptasi untuk kesehatan akan melibatkan penguatan sistem pelayanan dasar kesehatan dan pengobatan yang sudah ada, meluaskan penyebaran kesadaran kesehatan kepada rakyat agar lebih memperhatikan kebersihan dan soal penyimpanan air serta menghambat penyebaran penyakit melalui sistem pengawasan pola-pola penyakit lebih ketat. Pada waktu banjir, pengawasannya antara lain adalah dengan memonitor penyakit kolera. Untuk jangka panjang, pengawasan meliputi memonitor distribusi penyakit-penyakit yang disebarkan oleh nyamuk sambil memastikan rumah tangga mampu melindungi diri sendiri.

Adaptasi dalam Pengelolaan Bencana

Dari berbagai sisi, Indonesia merupakan tempat tinggal yang berbahaya, rawan terhadap berbagai macam bencana alam. Gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, kebakaran, dan berbagai kejadian cuaca yang ekstrem yang sudah begitu lumrah. Perubahan iklim akan menjadikan semua ini makin parah terutama bagi masyarakat miskin di wilayah perkotaan yag hidup seadanya di sepanjang pinggiran sungai atau bagi masyarakat pedesaan yang hidup di bawah ancaman longsor atau ancaman kemarau panjang dan kebakaran hutan.

Perubahan iklim juga akan membawa bencana yang berlangsung secara perlahan-lahan seperti kenaikan muka air laut dan intrusi air laut ke delta-delta sungai yang merusak ekosistem pesisir dan menghancurkan mata pencaharian masyarakat. Akibatnya ? lebih banyak korban jiwa, penderitaan, kemiskinan, gangguan pelayanan sosial paling mendasar, porak porandanya harta benda dan infrastruktur, kemunduran dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, serta kerusakan lingkungan hidup.

Karenanya dimasa sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita dapat beralih ke pengelolaan yang ‘cermat’. Mengurangi risiko dan melakukan persiapan sebelum bencana itu terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah sudah mengambil langkah-langkah ke arah itu. Misalnya, Pemerintah sudah mengeluarkan Undang-Undang baru tentang Pengelolaan Bencana Nasional (Pengurangan Risiko) yang akan mendorong masyarakat berinvestasi bagi keselamatan diri masing-masing dengan mengurangi risiko kerusakan bencana. Pemerintah juga akan membuat program dialog antar Pemerintahan dan antar umum-swasta, mengenai suatu Rencana Aksi Nasional untuk mengurangi resiko Bencana. Beberapa Pemerintah Daerah bahkan sudah bergerak lebih cepat : Pemerintahan lokal Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Maluku, misalnya sudah bergerak lebih jauh menyiapkan Rencana Aksi Daerah untuk Mengurangi Resiko Bencana. Mendukung langkah adaptasi ini, perlu dibangun kapasitas yang dibutuhkan oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan berbagai rencana dan strategi ini dan memberdayakan masyarakat agar ikut memikul tanggung jawab sendiri sehingga memastikan setiap orang di Indonesia hidup dalam ‘budaya yang mementingkan keselamatan’.

Penutup

Akhirnya cara terbaik untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah beralih ke bentuk-bentuk pembangunan yang lebih berkelanjutan, belajar untuk hidup dengan cara-cara yang menghargai dan serasi dengan alam. perubahan iklim merupakan ancaman yang serius, suatu peringatan untuk menyadarkan kita. Namun, kita juga dapat menggunakan kesempatan ini sebagai momentum baru bagi upaya-upaya perlindungan lingkungan hidup kita.

Menanami kembali hutan-hutan kita, bukan saja akan meningkatkan penyerapan gas-gas rumah kaca, tetapi juga akan melindungi masyarakat dari bencana langsung longsor. Menurunkan konsumsi bahan bakar di perkotaan tidak saja akan mengurangi emisi karbon dioksida, tetapi juga akan memperbaiki kesehatan penduduk kota dan meringankan beban rakyat, terutama yang masih anak-anak dan lansia dalam bertahan pada kondisi cuaca yang ekstrem. @garrybaldhi

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: