Halaman Terakhir itu Berjudul Pengayaan Materi

Salah Satu Halaman Dari Buku Pelajaran

“Pengayaan Materi” masih ingatkah anda dengan sepenggal materi pelajaran tersebut ? Ada ilmu Pengetahuan Benda Angkasa dan Astronomi, Ilmu Pengetahuan Kesehatan Dan Organ Reproduksi, Ilmu Pengukuran Pesawat Sederhana yang kesemuanya sempat tercantum didalam buku-buku pelajaran dimasa kita muda dahulu. Ilmu-ilmu tersebut pada dasarnya tidak wajib untuk diajarkan oleh seorang guru kepada para muridnya meski begitu bukan berarti materi itu tidak berguna untuk kemaslahatan orang banyak. Kata “pengayaan” disini memiliki arti dapat diajarkan kepada para murid sekolah jika masih ada sedikit waktu sisa pada kegiatan belajar mengajar yang boleh diisi dengan pelajaran pengayaan materi tersebut oleh para guru. Guru yang bijak tidak akan membuang sisa waktu kegiatan mengajarnya hanya dengan memberikan soal latihan kepada para muridnya melainkan juga mengisinya dengan tambahan “suplemen” ilmu dari halaman pengayaan materi. Saya tidak akan membahas kiat atau bagaimana metode pemberian materi pengayaan yang harus bapak/ibu guru lakukan kepada para muridnya di lingkungan sekolah tetapi saya akan mencoba mengaitkan esensi (intisari) dari sebuah arti “pengayaan materi” terhadap kehidupan sehari-hari. Menjadi orang kaya adalah dambaan seluruh manusia produktif, merupakan sebuah keharusan dari atas apa yang telah mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada banyak cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terlebih agar menjadi seseorang yang kaya. Mulai dari mengenyam bangku pendidikan dasar hingga sarjana dan ada pula yang mengejar mimpi tersebut dengan mengikuti berbagai kursus atau pelatihan kejuruan. Setiap orang berbeda-beda dalam memahami arti “kaya” yang sesungguhnya. Kaya bisa diartikan memiliki banyak materi yang berbentuk kebendaan misalnya mobil, rumah mewah, perabotan mewah, sawah yang banyak dan lain-lain. Sisi lain ada yang mengartikan kaya itu tidak pernah mengalami kekurangan baik dari segi ilmu, ahlak dan iman. Tentu saya tidak akan langsung menentukan arti “kaya” yang mana diantara itu yang benar. Relatif, karena kedua konsep tersebut bersifat Chain system yang artinya kedua konsep “kaya” tersebut saling berhubungan seperti rantai dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Holistik, itulah maksudnya yaitu dalam sebuah sistem terdiri dari materi-materi pembentuk interaksi yang menghasilkan output. Kedua konsep tersebut justru akan menghasilkan sebuah output bila makna “kaya” secara materi dan keterampilan saya coba satukan. Seseorang yang berilmu tinggi sudah tentu akan mendapatkan upah dari karyanya sesuai dengan standar tenaga ahli berpendidikan (skill manpower) dan sebaliknya seorang pekerja kasar juga akan mendapatkan upah dari usaha kerasnya sesuai dengan standar upah pekerja tidak berpendidikan (unskill manpower). Eksesnya, setiap pekerja sudah pasti memperoleh upahnya masing-masing sesuai dengan pengorbanan yang mereka berikan dalam bentuk harta (aset). Sampai sini giliran peran ilmu manajemen mengambil alih agar kita mampu mengelola keuangan seefisien mungkin.

Pada hakikatnya semakin banyak ilmu pengetahuan yang kita peroleh maka semakin besar kesempatan kita untuk meraih tujuan hidup. Tak peduli dengan cara dan metode apa kita belajar tetapi satu hal yang utama ialah seberapa besarkah manfaat ilmu pengetahuan bagi kelangsungan hidup ini. Ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang mampu membawa arah manusia menuju kemudahan dan kebaikan sehingga dapat mengubah pola kehidupan manusia yang dahulu tidak efisien menjadi lebih efisien dan efektif. Kegiatan perkuliahan bagi saya yang masih menempuhnya sedikit demi sedikit mulai terasa “kekurangannya” dalam arti kekurangan pemahaman akan materi yang notabene mengambil kasus dari lingkungan. logikanya bila ada kasus yang harus dipecahkan dengan ilmu dasar maka kita musti paham soal dan paham cara menyelesaikannya. Kebanyakan cara menyelesaikan soal-soal kasus tersebut menggunakan ilmu dasar yang telah diajarkan di Sekolah Menengah Atas. Ada pula kasus yang dapat dipecahkan menggunakan ilmu kuliah namun porsinya kecil (sekitar 25%) saja. Disini peran Pengayaan Materi sangat dibutuhkan sebab kasus-kasus yang semakin hari semakin beragam jenis dan kiat memecahkannya hanya dapat dipecahkan dengan kemampuan ekstra dari para pelajar. Pengayaan Materi tidak hanya mempengaruhi seberapa kuat kita mampu mengungkap tabir demi tabir dari kasus tersebut melainkan juga mampu mempengaruhi pola pikir dan rasa kita. Kita tidak akan merasa kekurangan hal apapun selama kekayaan intelektual dan moral masih ada didalam diri kita. Kita tidak akan mudah terbujuk rayu oleh kenikmatan dunia yang bahkan bukan hak kita untuk kita ambil sendiri. Sama halnya dengan kasus penimbunan bahan bakar minyak yang marak akhir-akhir ini. Rencana Pemerintah yang akan menaikkan harga bahan bakar minyak pada awal bulan April lalu dan kemudian diundur hingga Awal bulan July mendatang merupakan sebuah peluang kotor para pelaku penimbun yang berekspektasi meraup keuntungan tidak halal. Para pelaku kejahatan tersebut berfikir bila mereka mampu menyimpan sumber daya minyak hingga harga minyak jadi dinaikkan nanti maka keuntungan besar akan datang dan masuk kedalam saku mereka. Kekayaan non halal adalah tujuannya meski harus menipu banyak orang, perilaku tersebut jelas-jelas adalah perbuatan kejahatan. Tuhan bisa memastikan perbuatan tidak terpuji tersebut sebagai sebuah dosa yang sangat besar namun saya melihatnya lebih dari itu. Saya melihat pelaku penimbun tersebut dengan kekurangan ilmu akibat tidak dipercayainya sebuah makna “Pengayaan” bagi kehidupannya. Mereka lebih menganggap kaya harta adalah segalanya daripada berkutat dengan buku-buku pelajaran yang terkesan “kekanak-kanakan”. Lagipula faktor usia menjadi alasan kuat bagi para penimbun tersebut. Salah besar jika mereka masih belum bisa merubah anggapan bodoh itu dengan anggapan yang lebih rasional. Menurut saya, ulah mereka yang melakukan aksi kejahatan tersebut malah menunjukkan jati diri asli mereka yang miskin ilmu dan materi. Masyarakat akan cepat memberikan predikat bodoh, miskin dan hina kepada mereka ketika mereka tertangkap melakukan hal-hal ilegal tersebut. Masyarakat akan lebih menghormati dan menghargai seseorang warga yang lebih baik patuh dan taat terhadap aturan perundang-undangan yang berlaku ketimbang melanggarnya. Termasuk para pelaku yang membeli bensin menggunakan jeriken, saya cenderung melihat hal tersebut sebagai perbuatan yang menunjukkan sudah semiskin itu kondisi masyarakat kita akhir-akhir ini sampai-sampai tidak mampu membeli seliter bensin yang Bapak Mantan Wakil Presiden RI mengatakan harga bensin sebesar 6 kali biaya SMS. Saya bukan berniat untuk memperkeruh situasi dan mencari-cari masalah untuk dibesar-besarkan melainkan untuk mengingatkan arti “pengayaan” bagi kehidupan kita semua. Insan yang kaya tidak akan gegabah mengambil keputusan yang disertai tindakan konyol hanya karena situasi krisis seperti ini apalagi sampai merugikan banyak orang tidak berdosa demi memenuhi hasrat kotornya akan harta. Ilmu manajemenlah yang akan menuntun tiap langkah orang pintar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa harus melanggar hukum. Lamanya waktu tuk meraih kekayaan bukan alasan seseorang yang berilmu untuk melancarkan aksi kotornya itu. Waktu bagi seorang yang pandai merupakan sebuah tantangan untuk mengukur seberapa kuat perjuangan mereka dalam meraih kesuksesan maka semakin banyak ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan semakin besar kekayaan yang akan diraih. Pada akhirnya saya bertanya kepada anda semua para pembaca yang budiman, “apakah anda sudah mengumpulkan kekayaan ilmu hari ini?” Pengayaan Materi untuk kehidupan yang lebih  baik. (@garrybaldhi)

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: