Inilah Siklus Hidup, Bertahan Hidup atau Mati

contoh rantai makanan di sawah

Dulu sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas pernah kuenyam salah satu ilmu yang khusus mempelajari hubungan mahluk hidup dengan lingkungannya yang juga populer dengan nama Biologi. Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam yang kuambil kian menambah luasnya wawasanku kala itu dengan dukungan orang tua tentunya. Ilmu Biologi yang kukenal umumnya membutuhkan daya tahan ingatan untuk mengingat segala bentuk objek ilmu mulai dari bakteri hingga biosfer yaitu lingkungan tempat tinggal mahluk hidup secara arti luas. Jujur Biologi bagiku sudah seperti buku komik yang sangat menarik sekali untuk dipelajari terlebih mudahnya soal latihan yang disajikan oleh buku-bukunya. Aku sendiri cenderung lebih mampu menangkap ilmu melalui membaca dan menghafal daripada mencorat-coret kertas kosong untuk menjawab soal yang berisikan soal kasus berantai. Sempat aku mencoba “mengadu” Biologi dengan ilmu-ilmu exact yang secara konsep saja sudah berbeda. Kuukur seberapa pastinya ilmu ini untuk memahami alam yang luas tanpa bantuan ilmu exact yang notabene aku lemah di sektor hitung-hitungan waktu itu. Jawabannya ternyata semua ilmu benar dan tidak ada yang menang dengan berdiri sendir sebab semua ilmu saling bersinergi yang artinya antara satu ilmu dengan ilmu lainnya tidak dapat menjawab berbagai fenomena alam atau kasus secara independen. Sekarang¬†sang “pengendali Alam” mulai menampakkan “kesaktiannya” seperti contohnya para pakar mampu menjawab fenomena perubahan iklim dewasa ini dengan meneliti variabel-variabel dari alam, para pakar biologi juga mampu menjawab terjadinya fenomena serangan serangga tomcat yang membuat sensasinya dengan sengatan demi sengatan kepada manusia yang menyebabkan kulit korban mengalami luka seperti terbakar. Bahkan mungkin saja para pakar sudah mempersiapkan semua kesimpulannya untuk menjawab berbagai fenomena yang masih belum muncul tapi pasti akan muncul, siapa tahu? Semua hal yang baru saja itu merupakan sebuah siklus kehidupan yang terdiri dari pelaku dan habitatnya yang saling berinteraksi. Interaksi yang positif antara alam dengan mahluk hidup sudah tentu akan menghasilkan produk yang baik pula. Sebaliknya, Interaksi yang negatif terlebih jika terjadi pengurangan jumlah saja baik dari organisme atau habitat akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup populasi mahluk hidup. Berbicara soal keberlangsungan hidup, kehidupan manusia yang majemuk sangat menarik untuk ditelisik. Aku berfikir, mengapa kita yang umumnya sudah mampu mendapatkan sebuah hasil dari pekerjaan tetapi belum juga merasa puas untuk berhenti memenuhi kebutuhan yang terkadang bukan hak kita? Aku sering melihat fenomena-fenomena “keluarnya” tindakan manusia dari “rel” wewenangnya dalam beraktivitas di tengah masyarakat. Aku sesekali pernah melihat bahagianya seorang ketua divisi dalam sebuah organisasi kampus yang aku ikuti untuk bertindak semena-mena terhadap adik angkatannya. Aku bahkan sempat menemukan penyimpangan-pentimpangan para pelaku bisnis yang cenderung merugikan konsumen yang dibodohinya. Kejam dan tak berperikemanusiaan itulah predikat yang patut disandang oleh “oknum-oknum” jahat tersebut. Jangankan penyesalan, rasa malu pun mereka sudah tidak punya seperti seekor binatang yang mengawini induknya sendiri, ironis ! Pengalamanku ikut berorganisasi di lingkungan kampus pun sekata dengan kasus-kasus diatas. Pada saat itu aku yang masih aktif sebagai mahasiswa semester I di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Kota Yogyakarta memutuskan untuk turut serta dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. Organisasi yang kuikuti dasarnya berbadan hukum yang bertujuan mensejahterakan anggotanya. Organisasi yang memilki dua stand toko yang berada didalam komplek kampus tersebut tiap bulannya mampu meraup keuntungan bersih Rp 1.500.000 yang kala itu masih besar nominalnya terlebih bagi sebuah organisasi kemahasiswaan. Aku sendiri yang menjabat sebagai staff bidang personalia sangat terpukau dengan prestasi tersebut. Aku merasa bangga bukan karena jumlah rupiah yang didapatkan oleh organisasi melainkan karena partisipasiku untuk meningkatkan produktivitas para anggota dan pegawainya. Awalnya kurasakan ikut berorganisasi sangat bermanfaat hingga tiba saat pembagian upah kerja pada pertengahan bulan yaitu tepatnya tanggal 10 tiap bulan. Aku yang waktu itu mendapatkan upah yang tak seberapa merasa cukup terganggu dengan ulah seorang ketua divisi bidang pemasaran yang tidak santun berpendapat dalam setiap kegiatan rapat berlangsung. Ia lebih suka mengkritik anggota bidang divisi lain ketimbang mengelola anggotanya sendiri. Tidak salah memang mengkritik tetapi bukankah tidak bijak jika kita tidak mau menerima kritikan balik dari orang lain yang ditujukan kepada kita. Aku tak pernah mengerti isi pikiran dari ketua gadungan itu tetapi yang aku tahu Ia tidak pantas menjadi pemimpin di Institusi apapun. Kekecewaanku pada akhirnya menemui titik klimaks dengan keluarnya aku dari keanggotaan organisasi tersebut di tahun 2010. Keputusanku saat itu memang terkesan kekanak-kanakan hanya karena tidak betah satu organisasi dengan ketua gadungan itu namun lebih dari itu, aku lebih baik mundur secara terhormat daripada harus mengakui gaya kepemimpinan ketua gadungan tersebut padahal nyatanya tidak baik.

Rezeki, Jodoh dan Kematian memang kita yakini sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta namun lain halnya dengan Kesuksesan adalah pilihan dan hak kita semua untuk mencapainya. Aku dan pengalaman hidup yang penuh tantangan ini buktinya, dan memahami peran kita didalam sebuah siklus kehidupan ialah kuncinya. Peranku saat itu yang masih menjadi seorang “anak buah” belum mampu mengelola semua kegiatan kuliah dikarenakan minimnya pengalaman berorganisasi. Pengalaman berorganisasi memang jelas memberikan manfaatnya dalam setiap kegiatan kita tetapi manfaat organisasi tersebut akan lebih bermanfaat bila tiap-tiap pelaku organisasi yaitu kita mampu saling memberikan sumbangsihnya baik berupa pemberdayaan dan motivasi yang sesuai aturan tentunya. Peran yang kala itu sudah aku laksanakan kini beralih untuk kembali aku rencanakan. Aku menyadari peranku dalam siklus perkuliahan ini mulai mencapai tujuan yang ditandai dengan berakhirnya teori akan materi kuliah. Aku harus mulai menyusun sebuah karya ilmiah berdasarkan hasil penelitian lansung di lapangan bila aku ingin menyelesaikan jenjang studi strata satu ini. Semua Ilmu Pengetahuan yang sudah aku kumpulkan dari semester satu harus mulai kembali aku ingat untuk mendukung penyusunan karya ilmiah ini. Keputusanku untuk memulai pekerjaan itu terasa sangat pahit memang tetapi itulah siklus, aku harus melakukannya jika aku tidak ingin gagal di jenjang ini. Siklus akan terus ada di dunia ini selama setiap mahluk hidup beserta alam tempat tinggalnya saling tergantung satu sama lain. Air sebagai kebutuhan pokok organisme akan terus melakukan perjalanan panjangnya mulai dari samudera dan sumber mata air lainnya yang diuapkan oleh sinar matahari hingga membentuk gumpalan awan yang kemudian awan tersebut menurunkan hujan ketanah yang akhirnya akan kembali ke lautan. Kupu-kupu yang berperan sebagai vektor penyerbukan akan kembali menjadi kupu-kupu setelah melalui proses penetasan, perkembangan (fase ulat), dan metamorfosis (fase Kepompong). Aku yang hingga saat ini masih belum diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menjalin hubungan asmara dengan seorang wanita juga pasti akan ada saatnya nanti yang mana aku akan memiliki sebuah keluarga nan bahagia layaknya keluarga-keluarga lainnya. Inilah Siklus kehidupan, lakukan yang terbaik untuk meraih cita-cita kita atau mati dalam penyesalan. (@garrybaldhi)

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: