Lomba Melukis Anak Berkebutuhan Khusus-Autis

Yogyakarta, 28/1/2012. Suasana pagi di pelataran depan gedung Bank Indonesia tampak sibuk. Deretan mobil para petinggi dan karyawan Bank Sentral itu satu persatu merapat di sudut parkiran. Megahnya tenda yang berisikan panggung peresmian gedung perpustakaan dan pameran seakan melambai-lambai menyambut kepada kami yang baru tiba dari perjalanan. Hiruk pikuk sang kursi dan meja yang akan menjamu para tamu dengan keempukannya kian menambah suasana “prestise” acara itu. Acara yang juga akan dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu sejatinya terdiri dari rangkaian kegiatan dan salah satu acara “pamungkasnya” ialah Lomba Melukis Anak Autis. Dengan langkah pasti saya berserta adik memasuki ruangan ganti yang didalamnya tertata rapi kursi-kursi rapat para petinggi bank negara tersebut. Kami dengan sigap sesegera mungkin merias diri di dalam ruangan tersebut. Di tengah kesibukkan para peserta karawitan yang sedang berganti pakaian adat jawa, satu per satu ibu guru mulai menampakan “gejala” narsisnya. Kilatan Cahaya kamera digital mulai menyinari seisi ruangan. Sunggingan bibir yang dihiasi merahnya lipstick kian menyemarakkan aksi para guru tersebut di depan lensa kamera. Tak terasa waktu kami berdandan pun habis dan akhirnya kami sudah siap untuk tampil.

Kegiatan yang sejatinya akan dimulai setengah jam lagi kami awali dengan persiapan perangkat gamelan dan latihan kecil. Alunan gending demi gending jawa sedikit menyejukkan seisi panggung yang masih ditata oleh para petugas panggung. Panasnya udara siang itu seakan terasa sejuk dengan ketangkasan dan kekompakkan para siswa-siswi SLB Bina Anggita dalam mempersembahkan gending-gending jawa. Para tamu yang hadir pun seakan tidak rela mensia-siakan momen itu untuk mengabadikan aksi dari para Siswa-siswi SLB yang pernah berlokasi di kecamatan Gedong Kuning tersebut. Mulai dari pejabat teras hingga wartawan media massa dengan penuh antusias mengambil gambar para siswa-siswi Sekolah Luar Biasa Bina Anggita. Pada suatu waktu permainan para siswa-siswi dihentikan sejenak untuk mempersilahkan penampilan sendratari Wiwidan yang dibawakan oleh para mahasiswa Institut Seni Indonesia. Saya beserta adik saya yang sembari meneguk minuman isotonik cukup terkejut pada mulanya sebab para penari berperangai layaknya penari penyambut tamu tersebut entah apa memang budaya atau tidak mempertontonkan kemolekan pahanya didepan para tamu yang telah hadir. Tarian yang saya anggap “kurang” sopan dan layak itu seperti tidak memiliki etika layaknya tarian-tarian jawa pada umumnya. Busana berwarna putih tanpa hiasan motif batik khas Yogyakarta hanya menutupi dada hingga perut sang penari. Lembaran kain satin putih menggantung layaknya jarik selendang para putri keraton. Ketukan nada melodi dari seperangkat alat musik bambu khas daerah jawa barat menambah kesan aneh bagi saya terlebih alat musik tersebut dimainkan oleh seniman yang berpakaian bak pendeta di zaman kerajaan jawa kuno. Pada saat itu saya sadar dan bertanya pada rekan saya yang juga guru dari adik saya, “Pak, itu penari jawa apa ya?” “saya belum pernah melihat tarian jawa khususnya Yogyakarta yang terang-terangan mempertontonkan kemolekan paha bahkan kaki si penari kepada para tamu agung.” kemudian pak guru menjawab “entah mas, mungkin itu tarian baru kreasi mahasiswa itu.” Jujur saja saya yang telah lama tinggal di Yogyakarta baru kali itu melihat sebuah karya seni yang cukup membuat hati saya sedikit kacau. Betapa tidak, di dalam hati saya terus bertanya-tanya, “Apakah ada kebudayaan jawa yang tidak segan-segan mempertunjukkan salah satu bagian tubuh pelaku seni yang seharusnya dijaga dan haram dipertontonkan kepada khalayak terlebih tamu agung ?”. Pertanyaan yang masih belum terjawab hingga saat itu kini menunjukkan  kebenarannya yang harus saya akui hipotesis awal saya bahwa tarian tersebut bukan merupakan bagian dari tari adat jawa melainkan tarian hasil kreasi para mahasiswa yang menyatukan unsur jawa dengan unsur kreatifitas. Selepas tarian “aneh” tersebut acara kemudian diisi oleh sambutan-sambutan, mulai dari Ketua Deputi Bank, Stakeholder dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Yaitu Sri Sultan Hamengku Buwana X yang diselingi oleh gending-gending jawa yang dimainkan oleh para Siswa SLB Bina Anggita dengan semangat yang masih besar tentunya.

Pada penghujung acara, saya dan adik yang waktu itu usai dari toilet bergegas duduk di deretan belakang untuk menunggu puncak dari acara tersebut. Degup jantung yang saling beradu dengan cucuran peluh di siang yang panas itu menjadi “penyakit” khas saya kala ingin naik ke panggung. Bukan karena saya tidak biasa melainkan karena ada sang bapak Gubernur yang jujur saya baru bertemu langsung seumur hidup saya. “Acara selanjutnya yaitu penyerahan tabungan kepada para juara 1 lomba menggambar tingkat lanjut dalam rangka Peresmian Gedung Museum Bank Indonesia.” kata MC. “Kepada para peserta lomba untuk naik keatas panggung.” Adikku yang menjuarai lomba tersebut langsung berjalan sembari kudampingi untuk naik keatas panggung. Ada satu hal kesalahan yang mungkin tidak pernah saya pikirkan dahulu yaitu saya mengenakan kemeja non batik yang sangat mencolok kelihatannya di tengah-tengah audiens lainnya. Satu persatu hadiah diserahkan oleh Para Pejabat Bank dan GRay Pembayun yang saya juga sangat tersanjung bisa berjabat tangan langsung dengan Sang Puteri Keraton Yogyakarta. KIlatan-kilatan lampu kamera mengisi keriuhan acara itu dan iringan tepuk tangan nan semarak kian menambah kegembiraan saya dan adik. Sungguh sebuah acara yang tidak akan pernah saya lupakan sebab inilah waktunya saya dan adik untuk memberikan karya kepada bangsa dan negara melalui lomba menggambar dan melukis yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Terima Kasih Bank Indonesia atas apresiasinya kepada saya dan adik yang masih memberikan kesempatan kepada adik saya untuk membuktikan keterampilan seorang penyandang Autis bahwa Anak Autis bisa berkarya untuk Nusa dan Bangsa. Acara yang selanjutnya diisi dengan kegiatan Peresmian Gedung Museum tersebut, kami lanjutkan dengan kembali pulang ke rumah. (@Garrybaldhi)

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: