Lepas Landas, Sudah Siapkah Saya?

Gelap, satu warna yang mataku lihat  secara perlahan di tengah malam itu. Malam yang masih dingin nan sunyi harus kulalui menggunakan kendaraan pribadiku kearah kota. Malam itu aku punya jadwal menjemput ayah dan ibu di stasiun yang akan tiba 16 menit lagi dari jakarta. Bergegas kulajukan mobil bak pembalap formula 1 menembus lengangnya lalu lintas kota. Sesampainya distasiun, mataku yang masih “ogah” untuk berjaga membawa badanku untuk terus duduk di kursi mobil sembari menunggu kedatangan ayah dan ibu. Kereta yang kutunggu-tunggu sejak awal tadi akhirnya tiba juga. tak lama ayah dan ibu menghampiriku dipelataran stasiun dan kami bertiga kembali kerumah dengan lancar. Paginya Ayahku sudah mendahului pembantu untuk mencuci pakaian kotor dengan menggunakan mesin cuci. Ibuku sudah berangkat ke pasar untuk belanja sayur-mayur. Adikku sudah 30 menit yang lalu berangkat ke sekolah. Tinggalah aku yang saat itu jam menunjuk di angka setengah delapan masih sibuk dengan kopi robusta kesukaanku. Aku memang terkesan malas dan tidak berguna tetapi sebenarnya aku membutuhkan sedikit waktu untuk menenangkan pikiranku yang masih lelah akibat semalaman tidur larut. Kopi hitam yang kian surut oleh tegukanku mengakhiri “masa-masa” menganggurku di pagi itu. Aku sejatinya termasuk orang yang tidak suka banyak membuang waktu hanya untuk duduk bak gelandangan. Aku masih memiliki rasa malu dan harga diri yang tinggi yang membuat aku masih diberikan kesehatan dan kecerdasan intelektual oleh Allah SWT. Selepas meminum kopi aku pun bergegas mengerjakan rutinitas khas hari minggu yaitu bersih-bersih rumah, perlengkapan kuliah dan berbagai perlengkapan kebun lainnya. Hari itu cuacanya cukup cerah sehingga aku tetap semangat sampai sang matahari berada dipuncaknya. Jam istirahat kuisi dengan meregangkan otot-otot lelahku sembari meminum air putih yang sudah disediakan oleh ibunda tercinta. Sejenak aku termenung yang diiringi tatapan mataku kearah hijaunya tanaman anthurium di depan ruang tamu. Tanaman yang memberikan manfaat besar untuk kehidupan tersebut seakan sedang memamerkan keindahan daunnya yang rindang diantara deretan tanaman sirih dan zodia. Melihat aku sendiri duduk terdiam di depan ruang tamu, Ayahku pun menghampiri dengan membawa sepiring kue khas jajanan pasar beserta sebotol minuman dingin. Beliau bertanya, “gimana kuliahmu ger, gak ada masalah kan ?”. “iya pah lancar kok kuliahku.” ucapku. ayah pun seketika duduk disampingku yang kemudian memulai ceramahnya. “ger, sekarang kamu kan sudah semester akhir, kamu tetap ingin melanjutkan kuliah kejenjang lanjut atau mau kerja saja?”. Aku menjawab, “aku maunya sih kerja pah supaya aku punya uang saku sendiri.” “kalau mau papa, kamu lebih baik lanjut kuliah S-2 saja supaya nanti ada jaminan kamu diterima di ranah pekerjaan yang lebih layak.” kata papa. “yah, itu sih saran papa saja, kalau keputusan ada di tangan sendiri ger, papa cuma berkewajiban membiayaimu.” tutur papa. Aku sempat tersentak mendengar ucapan ayahku itu, rasanya mataku ingin meneteskan air mata penyesalan yang deras dan hatiku pula sesak menahan kenyataan. Sejak masuk kuliah, aku termasuk mahasiswa yang belum juga menemukan sasaran hidup yang pasti. Aku adalah seorang mahasiswa yang cenderung menjalani kehidupan layaknya seekor penyu yang berenang di tengah samudra nan luas. Aku mengakui kekurangan didalam diri ini yang belum mampu memastikan kemana arah hidupku dan yang terbaik untukku. Teman-teman bagiku seperti pengiring yang pada kala itu masih kuanggap pilihan yang terbaik meski kenyataannya tidak semua teman sebaik yang kuharapkan sebelumnya. Naif memang, tapi itulah “cara” ku agar bisa tetap bertahan ditengah lingkungan yang dinamis ini. Kini setelah waktu mulai menunjukkan tanda-tanda kebaikkannya, aku pun mulai sadar akan keputusanku yang selama ini kurang baik itu. Aku mulai mengerti dan bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepadaku. Allah selalu memberikan segala hal yang aku butuhkan meski tidak semuanya aku minta kepadaNYA. Aku jadi teringat sebuah patah kalimat dari seorang orang bijak yaitu, “Dunia akan selalu berkata TIDAK terhadap setiap hasil perbuatan yang kita selalu harapkan baik, akan tetapi Allah akan selalu berkata IYA terhadap semua hasil perbuatan kita yang berlandaskan kebaikkan.” “Allah akan memberikan semua hal yang kita butuhkan tetapi menunda beberapa hal yang kita inginkan agar kita selalu bertakwa.” Sedih kurenungi bila kilatan-kilatan kata bijak tersebut melintas dibenakku. Aku merasa bersalah meski tidak ada hal yang patut aku salahkan selama ini baik yang sudah kuperbuat dan juga akan perbuat karena setiap perbuatanku sudah kurencanakan matang-matang sebelumnya. Tidak hanya itu saja, setiap ayahku berceramah akan makna kehidupan, sanubariku selalu terbangun oleh nasihat demi nasihatnya. Ada nasihat kiat mensyukuri nikmat, ada nasihat kiat merencanakan aktivitas, ada nasihat untuk selalu menjaga kebersihan dan masih banyak lagi. Sejujurnya aku tidak pernah merasa bosan apalagi terganggu terhadap semua nasihat yang ayah berikan kepadaku justru aku berterima kasih kepada ayah yang tidak bosan-bosannya memupuk rasa percaya diri melalui cara tersebut. Aku merasa bahagia dan bangga diberikan kedua orang tua yang sangat memperhatikan anak-anaknya yang hingga saat ini masih belum mampu hidup mandiri ini. Aku yang miris melihat kenyataan hidup, sekarang lebih memahami nasihat-nasihat yang dulu belum menampakkan hasilnya. Aku sangat bersyukur masih bisa menikmati hidangan yang enak disaat masih banyak saudara-saudara kita menderita bencana kelaparan diluar sana. Aku sangat bersyukur masih bisa menikmati barang-barang yang bermanfaat disaat masih banyak saudara kita belum bisa menikmatinya. Tak ada hal yang bisa kulakukan selain bersyukur dengan terus beribadah kepadaNYA.

Kue jajanan pasar yang sudah habis kami santap membawa renungan ini kepenghujung waktu. Sorot cahaya sang matahari di penjuru barat menyiratkan pesannya untuk aku melanjutkan aktivitas selanjutnya. Sebelum aku beranjak, sebuah pertanyaan dari sang ayah sempat terlontar, “apa kamu siap untuk lepas landas dari tanggung jawab papa, ger?”. “lepas?” kataku. “iya, jika waktunya tiba kamu akan terbang tinggi dan meninggalkan papa dan mama untuk meraih cita-citamu.” kata ayah. “tidak pah, meski geri nanti pasti akan meninggalkan papa-mama, geri sampai mati akan selalu mendampingi papa-mama hingga kapanpun.” ucapku. “baguslah kalau begitu ger berarti kamu pantas menjadi anakku yang selalu papa banggakan.” kata papa. “iya pah, terima kasih.” ucapku. Aku pun beranjak dari ubin yang sudah mulai panas itu dan kembali melakukan rutinitas yang tertunda tadi. Lepas landas pada konsep ini merupakan sebuah arti apakah kita sudah mampu berdiri sendiri untuk maju menjalani kehidupan didunia? Kita sebagai anak manusia yang memiliki keyakinan, harus mampu mempersiapkan segala hal yang nantinya akan kita gunakan didalam kehidupan. Kita harus mampu mempersiapkan ilmu, materi, keterampilan serta keimanan yang kokoh jika kita tidak ingin menyesal dikemudian hari hanya karena ketidaksiapan kita merencanakan dan melakukannya. Persiapkanlah segala hal kebaikkan yang kita miliki demi keberlangsungan kehidupan yang lebih baik di kemudian hari. Semoga Bermanfaat. (@Garrybaldhi)

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: