Dimensi Waktu

Rotasi Bumi

Sore hari di saat sebagian besar mahasiswa telah kembali dari kegiatan rutin menuntut ilmu, aku mulai hari itu dengan harapan besar menuju kampus. Seperti biasa, hanya hembusan angin nan lirih dan derap langkah petugas kebersihan kampus yang kutemui disana. Sunyinya lorong kampus seakan menolak kehadiranku yang sejak pagi belum menyantap hidangan apapun di rumah. Sinar sang matahari yang sedari awal menemani perjalananku kian terusik oleh kegaduhan awan-awan pembawa hujan. Mencoba tuk menyemangati diri, kuambil telepon seluler yang bersembunyi di kantong dan kuketik sebuah kalimat kepada seorang gadis. “Nidia, bagaimana futsalnya?” “pasti menang donk..” (emoticon senyum). “tap !” jariku pun menekan tombol send. Beberapa detik kemudian, “kling”, ponselku berdenting tanda smsku dibalas olehnya. “belum kok, futsalnya masih besok rabu lagian yg futsal cowok-cowok temanku, bukan aku.” aku pun langsung membalas, “ehm, kalau gitu malam ini hang out yuk, ngobrolin skripsi..” send, aku kirim. Dengan hati mulai berharap penuh tiba-tiba nidia pun membalas kembali smsku. “aduh maaf ger, aku musti menemani cowokku nanti malam.” Sontak aku pun terkejut. Aku pada saat itu yang sempat tidak percaya nidia masih jomblo, duduk bak orang gila yang mengalami gangguan jiwa. Detak jantung yang kian berdetak semakin keras yang disertai gemetarnya tangan kurasakan sangat menyiksa bathin ini. Badanku sempat lemas kala Ia mengirim pesan itu. Kuhentikan aktivitas browsingku sejenak untuk merenungi kejadian tersebut. Perasaanku sempat terbakar amarah yang berkecamuk hingga sore. Perih sekali.. dan semakin sakit kurasakan. Bagaimana tidak, usahaku mencari “sang pendamping hidup” seakan tidak mendapat hasil apa-apa meski hanya sedikit. Kekecewaan tanpa ujung menggelayuti sanubariku karena sebuah ekspektasi berlebih untuk sesegera mendapatkan kekasih yang sempurna. Apalacur hingga jarum jam ditanganku menunjukkan angka tiga sore yang berarti aku harus masuk kelas perasaan kecewa itu belumlah pulih. Dinding kelas yang bertuliskan materi kuliah dari pancaran sorot proyektor seperti dinding penjara yang tak satupun materi kuliah yang diajarkan ibu dosen dapat kutangkap. Mataku terasa perih, dadaku sesak dan pikiranku seakan mau meledak waktu itu. Aku coba untuk aktif di kegiatan belajar itu namun apadaya tidak ada sedikitpun semangat untuk bertanya perihal materi kuliah hingga jam perkuliahan berakhir.

Pulang dari kampus, di tengah jalan raya air mataku mengalir dengan derasnya. Aku menangis, memang aku menangis saat itu tetapi aku menangis karena benar-benar tidak sanggup menahan sakitnya hati ini menahan malu dan lelah berusaha hanya untuk mendapatkan kekasih yang benar-benar mampu mengerti diriku. Aku merasa tidak sanggup untuk menemukan kekasih layaknya pria-pria pada umumnya yang sudah mendapatkan pacar sejatinya. Aku merasa tertekan dan benar-benar terjatuh ke dalam samudera yang berisi kawanan ikan hiu yang lapar dan siap untuk mencabik-cabik tubuhku. Hatiku menangis lebih lantang seiring terhentinya laju mobilku oleh karena menyalanya lampu merah di persimpangan jalan. sungguh hal yang sangat menggalaukan saat itu. Alasan dari rintihanku bukan hal yang kecil sebab aku sudah tidak memiliki daya untuk mencari jodoh lagi. Tenagaku sudah habis, tak ada yang tersisa di dalam diriku lagi pada saat itu. Saat lampu hijau menyala, kulajukan mobil kembali ke rumah sembari sedikit demi sedikit ku hapus memori hitam itu dari pikiranku. Setibanya di rumah aku langsung membersihkan badanku yang penuh peluh itu dengan dinginnya air kamar mandi pribadiku. selepas menyegarkan badan, seperti biasa, kubuka laptop mini ku kemudian ku log in blog pribadiku yang masih ada beberapa tulisan khas diriku yaitu renungan dan beberapa ilmu pengetahuan sosial kemasyarakatan. Sesaat ku coba mengingat kembali materi-materi kuliah yang diajarkan dosen kepadaku dan kutuliskan kedalam blog tersebut. Di tengah renunganku, tiba-tiba aku teringat akan sebuah arahan dari sang dosen. Ibu dosen berkata, “esensi sebuah ilmu manajemen ialah salah satunya Dimensi Waktu.” “waktu yang berputar membawa sebuah perubahan nilai suatu hal yang sama yaitu terus berputar layaknya waktu pada tiap satuannya.” “pada waktu kita mengenal detik, sekon, menit, dan jam.” “di dalam dimensi waktu ada yang sering kita kenal dengan inflasi, nilai ekonomi, kebijakan para manajer dll.” Inflasi dan nilai ekonomi sebuah barang merupakan suatu perubahan secara bertahap akan harga atau tingkatakan nilai yang dipengaruhi oleh faktor permintaan, misalnya minyak mentah, batu bara, dan gas alam nilai ekonominya akan terus naik seiring bertambahnya jumlah permintaan akan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui tersebut. Semakin terbatasnya jumlah barang maka semakin besarnya nilai barang tersebut (hukum Permintaan dan penawaran). Konsep Dimensi Waktu yang saya bahas saat ini bukanlah sebuah konsep dari materi kuliah yang telah saya dapat sore itu melainkan konsep yang sedikit lebih maju. Saya berfikir, waktu memang pada dasarnya tidak dapat berputar kembali tetapi waktu dapat berubah menjadi sesuatu yang berharga bila kita tekun dan kreatif untuk mengisinya. Rasa untuk terus mencoba-coba kian menyalakan api “pembelajaran” akan tiap hal dalam kehidupan yang layak untuk direnungi. Waktu yang ku miliki selama mengenyam banku kuliah sejujurnya tidak terlalu baik, sebagian besar waktu yang ku miliki sudah kugunakan untuk kuliah sembari mengisi kekosongan hati ini. Tidak ada sedikitpun rasa penyesalan yang ku rasakan oleh karena bagiku waktu itu aku telah banyak belajar tentang makna kehidupan. Seperti sebuah rasa yang suatu hari hadir di sanubariku yang dalam. Aku melihat betapa banyak ungkapan-ungkapan rasa syukur yang wajib ku lafalkan hanya kepada Allah SWT atas rezeki dan kelebihan yang telah Ia berikan kepadaku hingga saat ini. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, diluar sana ternyata masih banyak saudaraku yaitu umat muslim yang masih menderita karena ketidakmampuan mereka dalam bersyukur kepada Allah. Ada yang sebenarnya membutuhkan pertolongan tetapi karena kotornya hati menjadikan mereka sengsara lahir dan bathin. Namun ada pula yang hatinya memang suci bersih tapi karena Allah belum meridhoi rezeki maka orang-orang tersebut belum merasakan nikmatnya rizki-NYA.

Kehidupanku sendiri alhamdulillah sekali termasuk dalam lingkup mudah nan lancar. Baik kehidupan kuliah, keluarga, bermasyarakat dan bergaul dapat dikatakan enak meski tidak selamanya enak kurasakan. Hari ini yaitu tepatnya 7 hari setelah aku menulis lagi dalam blog pribadiku ini, di bawah teduhnya atap rumah yang kokoh aku merenung. Ibu Made (dosenku) tadi berkata dalam kegiatan perkuliahan, “manajemen ialah sebuah ilmu yang tak akan dapat lepas dari kehidupan.” “Kesuksesan seorang manusia sangat dipengaruhi oleh tingkat manajemen yang ia miliki.” “Di tengah masyarakat Indonesia faktanya jumlah orang sukses hanya 11 persen dari 89 persen jumlah penduduk produktif.” Fakta tersebut kian diperkuat dengan bertambahnya jumlah ledakan penduduk Indonesia sepuluh tahun terakhir akibat rendahnya pemahaman masyarakat khususnya kaum muda akan pentingnya program Keluarga Berencana, kemudian semakin mengkawatirkannya peredaran narkoba di tengah masyarakat akibat rendahnya kesadaran masyarakat akan dampak obat-obatan haram tersebut, selanjutnya semakin banyaknya jumlah pejabat negara yang terjerat kasus korupsi akibat rendahnya kualitas moral yang dimiliki oleh para birokrat bahkan hingga ke aparat penegak hukum, dan yang masih hangat diperbincangkan, kian maraknya dampak kerusakan alam yang menyebabkan serangan berbagai satwa hingga serangga ke lingkungan permukiman penduduk. Renunganku yang banyak tersebut bukanlah ingin menghina atau melecehkan bangsa sendiri melainkan hanya ingin mengevaluasi perbuatan apa saja yang telah bangsaku perbuat hingga pada akhirnya anak cucu kita akan merasakan pahitnya hidup di Bumi Pertiwi ini. Benar juga kurasa atas arahan dan ajaran dari dosenku itu, mengapa tidak dewasa ini orang-orang yang berbuat kebaikan semakin terkikis bahkan hampir punah karena semakin mudahnya mereka untuk berbuat kejahatan ketimbang berbuat kebaikan. Kebaikan contohnya di jalan raya merupakan sifat dan sikap yang langka seiring ketidaktegasan aparat kepolisian dalam menegakkan hukum di negeri kathulistiwa ini. Aku pun di dalam kehidupan khususnya hubungan asmaraku dengan sekian banyak wanita turut serta buruk kulalui oleh karena rendahnya pasanganku akan rasa perhatian dan pengertian yang seharusnya ia berikan hanya untukku tetapi urung dilakukan. Hal tersebut akhirnya tidak lagi menjadi beban kehidupanku setelah aku mendapatkan ilmu pengetahuan dari dosen-dosen di kampusku tentang kiat menghadapi dunia kerja dan rumah tangga. Ilmu pengetahuan bagiku bak senjata seorang penjelajah atau khalifah dalam Islam untuk melindungi serta mensejajarkan derajatku ditengah masyarakat. Dari sekian banyak ilmu pengetahuan yang ku peroleh, konsep dimensi waktulah yang sangat menarik untuk kupelajari. Pentingnya rasa syukur atas rahmat dan karunia Sang Maha Pencipta menambah kuatnya keimanan hatiku tidak hanya untuk ilmu agama tetapi juga pada semua ilmu yang sejalan dengan amal kebaikan. Aku menyadari, tidak sepatutnya diri ini mengeluh dan tidak bersyukur sebab Tuhan akan merasa menyesal telah memberikan rezeki-NYA kepada kita yang sebaliknya yaitu tidak mensyukuri nikmat-NYA. Konsep Dimensi Waktu menjelaskan, “Isilah waktumu yang singkat itu dengan kebaikan, meski sedikit kebaikan akan sangat bermanfaat bagimu.” Pesanku untuk semua sahabatku, “pahamilah konsep dimensi waktu dengan selalu dan terus berbuat kebaikan selama kita masih diberikan kesempatan dari Tuhan YME. (@Garrybaldhi)

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: