Nasihat Sang Semar

Nasihat Sang Semar kepada anak-anaknya

“Le, kabeh siro sing urip nang alam ndunya iki bakal ngunduh uwohe Pakarti.” “dados Sira padha kudu ngabekten karo gusti purbawasesane yo le..”

Penggalan ungkapan sang Semar kepada para putranya diatas sepintas bagi sebagian orang adalah hanyalah ungkapan kebijaksanaan semar sebagai tokoh pewayangan yang disegani dan patut di hormati tetapi bagi saya merupakan simbol arahan seorang orang tua kepada anak-anaknya agar selalu dan terus berbakti kepada orang tua dan Tuhan Yang Maha Esa bagaimana pun keadaan kita dan siapa pun kita selama kita adalah mahluk ciptaan-NYA maka kita wajib mentaatinya. Semar sendiri adalah tokoh pewayangan yang berperawakan setengah lelaki dan setengah perempuan yang itu menunjukkan “keadilan” sang Maha Pencipta kepada setiap mahlukNYA yaitu manusia diciptakan dengan dua jenis kelamin antara lain laki-laki dan perempuan yang bila keduanya dipertemukan oleh takdir Sang Maha Kuasa akan tercipta suatu bahtera yang kokoh dengan anak sebagai awaknya. Semar bukanlah tokoh yang diciptakan memiliki dua kelamin melainkan Ia hanya merubah wujud aslinya yang gagah perkasa karena Ia merasa tidak cukup bijaksana mempertontonkan kesempurnaan fisik dan intelektualnya kepada rakyat di dalam dunia pewayangan yang itu pula salah satu karakter khas yang dimiliki oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Sikap merendahkan diri di depan orang atas kelebihan yang dimiliki oleh masyarakat jawa sebenarnya memiliki makna. Bermaksud untuk selalu menghormati dan berusaha mengangkat derajat orang lain, masyarakat Jawa mengedepankan sikap dan perbuatan yang terpuji daripada menonjolkan keunggulan fisik pribadinya. Masyarakat jawa memiliki rasa malu yang besar pada saat Ia merasa melakukan tindakan yang secara nyata melanggar norma dan hukum yang berlaku. Sehingga masyarakat jawa selalu mendahulukan prinsip Berfikir sebelum Bertindak yang artinya selalu mengutamakan tindakan yang didasari hasil pemikiran yang baik. Kembali mengulik sang dewa bijak, semar memiliki karakter yang positif. Positifnya sifat yang Ia miliki ditunjukkan dengan kesederhanaan perangainya yang lebih memilih berpakaian apa adanya layaknya rakyat kecil bahkan terkesan miskin. Ia juga memilih untuk tinggal di alam dunia bersama rakyat dunia wayang daripada harus tinggal di kerajaannya sendiri di khayangan. Semar memiliki tiga saudara kandung yang kesemuanya adalah seorang dewa sakti nan mandraguna. Adik semar yang pertama ialah Bathara Guru. Dewa yang digambarkan selalu mengendarai sapi sucinya itu merupakan dewa yang cukup dikenal oleh banyak wayang dikarenakan sosoknya yang agung meski terkadang sikapnya melenceng dari derajatnya sebagai seorang Pandhita (pertapa suci). Adik Semar berikutnya yaitu Bilung. Berperawakan serupa dengan semar, Bilung tinggal di area kerajaan astina yang kala itu dikuasai oleh para Kurawa. Dan diurutan terakhir ada Togog. Togog digambarkan memiliki tubuh tambun, rahang bawah yang menonjol maju dan kepala sedikit peyang. Meski memiliki kekurangan fisik, mereka berdua (Bilung dan Togog) memiliki hati yang mulia. Mereka tidak akan menyusahkan siapapun walaupun mereka hidup dalam kekurangan dan kemiskinan. Sifat inilah yang membuat saya tersentuh sebab tidak ada satu pun perilaku manusia yang layak dan patut diacungi jempol  selain bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat karunia yang telah Dia berikan kepada kita.

Berkaca pada Semar, kita sebagai manusia yang juga mahluk sosial sudah sepatutnya untuk lebih memupuk rasa penghargaan kepada orang lain. Caranya tentu tergantung kemampuan kita masing-masing tapi menurut pemikiran saya tidak ada bentuk penghargaan termudah kepada orang lain selain menjalin hubungan timbal balik yang positif. Kalau dalam ilmu komunikasi seorang komunikan sudah seharusnya untuk terus menjawab serta membalas segala hal yang diungkapkan oleh Si Komunikator. Konsep komunikasi ini yang akan saya coba bahas di dalam blog tercinta ini. Peran komunikasi bagi saya sendiri sangat tinggi posisinya dalam memulai segala hal khususnya dalam kehidupan kampus saya. Komunikasi tidak akan terlepas dalam tiap denyut kehidupan. Kita memulai hari dengan menyapa Ayah, ibu atau adik yang sudah bersiap untuk menjadi insan produktif. Komunikasi dapat memuluskan arah dan tujuan dari seorang pencari ilmu. Komunikasi dapat meredam ketegangan yang terjadi di dunia kerja. Satu hal yang hingga saat ini membuat saya “angkat topi” kepada ilmu komunikasi ialah dapat memperkenalkan diri kita dan meninggikan derajat kita di hadapan orang lain. Sudah pasti jika kita tetap menjaga “nada” dan bentuk kata-kata yang kita olah agar bisa diterima oleh orang lain. Baik buruknya kita dapat ditampilkan dengan rapih oleh cara kita berkomunikasi. Menuturkan kata yang halus, jelas dan lugas adalah tolok ukur tingkat kebaikan kita. Ada lagi, dan yang paling menentukan siapa diri kita sebenarnya yaitu apakah kita mampu menepati setiap perkataan yang kita ucapkan ke dalam tindakan  yang nyata. “Kita akan menerima hasil dari setiap tindakan yang telah dilakukan.” itulah makna dari penggalan nasihat Semar kepada para momongannya yang wajib diarahkan menuju jalan yang lurus dan direstui Tuhan. Disini saya melihat nasihat tersebut seperti merupakan “petunjuk” harus bagaimana kita bergaul di dalam kehidupan nyata. Pergaulan yang baik akan terasa positif dan menghasilkan hubungan yang saling mendukung antar sesama manusia. Berbeda dengan pergaulan yang buruk akan mendorong kita ke dalam lingkaran hitam yang menjadikan kita manusia yang negatif di mata masyarakat. Sulit terasa jika telah di cap negatif di mata masyarakat maka pikirkanlah dahulu setiap tindakan dan ucapan yang akan kita lakukan sebelum hal tersebut telah terjadi.

Beberapa minggu yang lalu saya menemukan salah satu kejadian yang serupa dengan tema tulisan diatas. Sebenarnya tema yang akan saya bahas ini berasal dari pengalaman asmara pribadi saya. Kata ayah saya, pengalaman pribadi adalah sebuah file dokumen yang sangat tinggi nilainya karena sifatnya yang langka dan endemik (tidak ada di pengalaman hidup orang lain) menginspirasi saya untuk mencoba menerangkannya. Asmara saya telah dimulai sejak tahun awal tahun 2005, saat itu saya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama. Sedikit mengkawathirkan memang oleh karena masih terlalu belianya saya untuk menjalin hubungan asmara namun faktor kebetulan dan banyaknya jumlah siswi perempuan di sekolah saya yang mempertemukan saya dengan “pacar monyet” saya. Hubungan saya dengan Nidia (nama disamarkan) tidak berlangsung lama karena singkatnya waktu kami untuk menjalin hubungan yang lebih serius layaknya dua orang dewasa yang akan menikah besok. Kemudian di tahun-tahun berikutnya, dengan seragam putih abu-abu, saya kembali dipertemukan oleh “takdir” dengan seorang gadis muslimah yang tentu saja hingga tulisan ini saya ketik masih menjadi “tambatan hati” yang terbaik dari sekian banyak wanita yang saya sayangi. Pesonanya yang teduh nan menenangkan sungguh membuat saya lumer tak berdaya. Tulusnya kasih sayangnya sangat belum bisa saya jelaskan oleh karena banyaknya tindakan cintanya yang terus membangun saya hingga naik kelas II SMA. Singkat cerita kebodohan saya harus memaksa hubungan tersebut putus di tengah jalan. Pada saat itu saya terlibat perkelahian dengan beberapa geng yang konyolnya personilnya siswi perempuan semua. Saya harus pindah sekolah hanya karena perkelahian itu yang membuat hubungan saya dengan puput (lagi-lagi nama disamarkan) berakhir. Sedih, Bingung dan menyesal itulah campuran perasaan yang saat ini masih saya rasakan bahkan hingga tulisan ini terpublikasi di dinding blog saya. Terakhir, kisah asmara saya berlabuh di seorang gadis imut yang bernama Leny. Lamanya masa saya menjomblo membuat saya sedikit resah yang diliputi kegalauan. Hal tersebut wajar saya rasakan tetapi ternyata beda yang Leny rasakan. Kehidupan asmara dan keluarganya yang kurang indah membawanya semakin menjadi insan yang introvert alias tertutup. Dia memang tidak tertutup membalut rasanya sedemikian rapatnya melainkan cukup membuat saya bingung. Betapa tidak, tiap kebaikan saya “masih” dianggapnya setengah baik. Dia masih trauma dengan kebaikkan palsu yang dulu pernah diungkapkan oleh kekasih prianya yang akhirnya membawa kami ke dalam jurang putus.

Saya merasa sangat kecewa akan keputusan saya sendiri tersebut. Saya bingung harus bagaimana lagi hubungan ini yang tidak baik bila masih dilanjutkan. Saya terus dan terus berusaha mengalah dan mengerti kemauannya tapi hal itu malah membawa saya ke arah “kebangkrutan”. Tidak ada seorang pun yang tahu dan mencoba menghibur perasaan galau ini hingga pada suatu malam saya menonton pementasan wayang kulit yang saat itu ada Sang Semar yang sedang bercengkerama dengan anak-anaknya. Ia (semar) berkata, “Menungso iku bakal ngunduh uwohe pakarti seko tindak tanduke.” Manusia itu akan menerima hasil dari setiap tindakannya, itulah arti dari penggalan kata itu. Kaitan dengan kisah asmara saya, awal saya bertemu Leny, kita berdua pernah saling berjanji tidak akan menutup diri terhadap segala hal yang kita lalui. Dan pada kenyataannya Leny lah yang secara tidak sengaja melanggar janji tersebut. Dia hingga saat ini telah meninggalkan saya sendiri dengan tumpukan tugas skripsi. Bukan tugas skripsi yang saya keluhkan pada dia tetapi keangkuhannya terhadap kasih saya. Dia memang mahasiswi yang mandiri tapi hal itu malah membuatnya “lupa” akan kekasihnya yaitu saya. Sekarang saya merasakan secara nyata nasihat semar yaitu kebaikan yang pernah saya beri kepada Leny tidak akan bermanfaat selama Leny belum mampu membuka diri untuk dicintai. Leny mengingkari janji sucinya pada saya yang senada dengan hasil yang akan saya rasakan. Saya merasakan pahitnya diingkari, pahitnya ditinggalkan seorang kekasih yang sangat saya sayangi. Hasil dari rasa sayang saya kepada kekasih “palsu” yang terasa ini telah membuat hati ini sesak tak tersembuhkan. Saya merasa menyesal meski tidak terlalu dalam sudah terlanjur mencintai Leny dengan penuh. Tapi ya sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, seekor kera yang diberi sebuah bunga tidak akan menganggap bunga itu sebagai benda yang patut dijaga dan dipelihara melainkan sebagai mainan yang tidak berharga. Perumpamaan itulah yang menurut saya pantas Leny dapatkan sebab masih belum bisanya Ia memahami makna kasih sayang saya yang tulus. Maafkan saya Leny, bukan maksudku untuk menyakitimu “lagi” tetapi aku harap dirimu tahu dan mengerti isi hati serta perasaanku saat ini yang telah kau ingkari. Semar benar dan saya salah sudah menganggap kamu sebagai perempuan yang baik di segala lini. Terima kasih Leny atas segala perhatianmu selama ini kepadaku. Lain kali cobalah mengerti akan isi hati geri-geri lainnya yang sudah mencoba untuk menyayangimu tulus. Kebebasan sekarang telah kau genggam kembali maka ingatlah pesan “sang dewa Semar” yaitu jika kau ingin berbuat hal kebaikan maka lakukanlah dengan ketulusan jiwa raga agar hasil yang kau dapatkan bukan hal yang buruk. Doaku padamu Leny semoga Tuhan terus dan selalu terus membimbingmu berjalan bahkan berlari di jalan yang lurus tanpa ada rintangan yang berarti. (@garrybaldhi)

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: