Toko Favoritku Nasibmu Kini

Tidak ada lagi sapaan hangat khas pusat perbelanjaan itu yang biasanya dilontarkan oleh para pelayannya. Tidak ada lagi gemuruh eskalator yang menyambut para tamu di altar mall terbesar kedua di Kota Pendidikan tersebut. Tidak ada lagi kebisingan perangkat permainan anak-anak layaknya pusat perbelanjaan di kota-kota besar yang saling bersahutan menyapa tiap pengunjung mall yang datang. Kini yang ada tinggalah seonggok palang portal yang angkuh menutup sang eskalator dari tugasnya. Kegelapan ruang swalayan yang menyelimutinya seakan menyiratkan keengganan para barang dagangan yang tertata rapi di rak-rak swalayan itu tuk dijajakan. Dinginnya lantai swalayan yang digelayuti oleh tiupan pendingin udara mall menambah jauhnya kesan ramai dari kunjungan para tamu baik yang hanya melihat-lihat dan yang sedari awal ingin membeli barang dagangan yang dijajakan oleh swalayan itu. Toko swalayan yang tepatnya berada di daerah batas kota itu sebenarnya tidak melulu mahal dan membosankan bahkan ada beberapa produk dagangan yang hanya ada di toko swalayan tersebut. Luas toko swalayan itu juga sesuai dengan standar luasan toko swalayan pada umumnya yaitu cukup luas untuk dijelajahi dengan kereta troly ataupun keranjang belanja tanpa harus membuat para pengunjung merasa kelelahan. Keramahan para pelayannya juga tidak kalah baik dari pusat perbelanjaan lainnya di kota ini. Meski begitu patut disadari, mungkin kurangnya promosi menyebabkan toko swalayan ini “kalah” bersaing dengan toko-toko swalayan yang sudah menjamur dan semakin menancapkan bendera “kekuasaan” mereka diatas tanah diskon yang semakin luas mereka jajah. Sehingga suasana senyap selalu menghinggapi pelayanan yang diberikan toko swalayan ini kepada para pengunjungnya.

Saya dan adik saya sudah cukup setia untuk berbelanja di toko swalayan tersebut sejak awal tahun 2010 yang meski saya sedikit kecewa dengan pelayanan “oknum” pelayannya yang seenaknya menjamu tamu dengan bibir datarnya alias tanpa senyuman hangat. Pada awalnya saya masih bisa memaklumi hal tersebut tetapi hari demi hari saya berkunjung ke toko swalayan itu saya bisa mengetahui perihal apa yang menyebabkan ketidak ramahan pelayanan tersebut. Tapi sudahlah, bukan itu yang saya cari dalam kegiatan plesir saya melainkan ketenangan menemani adik saya yang notabene penderita autis dengan perilaku yang hiperaktif terlebih bila sudah makan panganan yang mengandung tepung terigu dan penguat rasa maka yang terjadi saya kewalahan mendampingi adik saya yang lari kesana kemari. Awalnya saya dengan adik hanya iseng berbelanja buah-buahan di toko swalayan tersebut namun dekatnya lokasi toko tersebut dengan restoran langganan tempat adik saya bersantap sore menyebabkan sebuah kebiasaan “mampir” ke toko swalayan itu. Kami biasa mengunjungi toko swalayan itu tiap sore selepas pulangnya adik saya dari sekolah luar biasanya. Deretan warna-warni genit dari buah-buahan menyambut kehadiran kami. Disebelah kanannya terdapat beberapa pendingin makanan beku yang menyediakan berbagai panganan maupun minuman beku. Ada susu, sayuran segar, beraneka ragam nugget ikan, sapi, dan ayam bertebaran dengan rapihnya. Ada juga aksi koki yang memasak beragam olahan laut yang pastinya sangat menggoda kita tuk melihat bahkan mencoba hidangannya. Lainnya sedikit sama dengan toko swalayan pada umumnya yaitu trdapat counte obat-obatan dan peralatan listrik hingga pertukangan yang kesemuanya menempatkan diri sesuai ukuran dan harganya masing-masing. Potongan harga atau diskon “gede-gedean” memang jarang saya temui bahkan tawaran produk baru lengkap dengan etalase dan sales promotion girl belum pernah saya nikmati hingga toko swalayan itu akan ditutup entah karena apa. Tak mengapa, lagi pula keheningan dan kenyamanan berbelanja di toko swalayan itu yang tidak bisa saya rasakan di tempat lainlah yang membuat saya dan adik betah berlama-lama di dalamnya.

Kini semua kenangan-kenangan itu telah redup seiring ditutupnya toko swalayan yang sepi pengunjung itu. Entah karena sepinya pengunjung yang membuat omzet penjualannya terus merosot atau karena faktor kekalahan bisnis yang membuat toko swalayan yang pernah menjadi lokasi alternatif berbelanja sebagian warga kota gudeg tersebut tutup. Sangat disayangkan memang selain saya sudah tidak bisa lagi berkunjung dan bermain ke sana, tempat tersebut sekarang sudah sepi bahkan bila boleh saya katakan ditinggalkan oleh semua pelanggannya dari toko swalayan itu sampai kesemua counter-counter yang sebagian besar menjajakan pakaian batik. hal ini cukup membuat saya rindu akan suasananya, kenyamanan dan variasi produk dagangannya. Pada bulan Maret ini saya sesungguhnya sudah mengetahui akan kabar tutupnya pusat perbelanjaan itu tetapi saat saya kebetulan sedang bersantap siang di restoran yang dekat dengan toko swalayan itu, aura gelap nan mistis menghadang pandangan saya. Saya merasakan perasaan yang berbeda sekali disaat pertama saya berbelanja di toko itu dengan saat terakhir  saya berbelanja di toko swalayan tersebut pada pertengahan tahun 2010. Waktu sungguh dapat membuat kita lupa akan hal-hal yang mungkin bagi sebagian orang kurang penting. Bagi saya waktu adalah suatu masa disaat kita menjalani kehidupan yang terus berputar secepat pergerakan langkah kita untuk mengisinya. Waktu tidak akan dapat berputar kembali melainkan akan terus berputar maju kedepan sehingga kita harus mengisinya dengan beragama aktivitas yang positif dan bermanfaat seperti kegiatan plesir saya dan adik saya tadi. Di akhir dari cerita saya diatas ada satu hal yang dapat kita petik sebuah hikmah yaitu Kenangan terindah bukan berasal dari seberapa banyak barang yang mampu kita beli dimanapun tempat favorit belanja kita tetapi dari seberapa berkesannya tempat itu yang akan membuat kita akan merasa kehilangan momen indah berbelanja atau plesir ke tempat yang kita gemari tersebut. (@Garrybaldhi)

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: