Sejarah Madat di Jawa

Banyak orang menduga penggunaan narkoba, khususnya opium muncul bersamaan dengan modernisasi. Padahal, berbagai dokumen pemerintah kolonial Belanda menunjukkan, madat sudah merasuki penududuk pulau Jawa sejak abad 17.

 

madat

Madat

 

Bahkan pakar candu Henri Louis Charles Te Mechelen pada 1882 menulis, satu dari 20 orang Jawa menghisap candu, seperti yang tercantum dalam buku Opium to Java karya James R Rush. Kebiasaan menghisap candu pun tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di sejumlah wilayah koloni Eropa di Asia, tulis Te Mechelen yang waktu itu menjabat sebagai inspektur Kepala Regi Opium dan asisten Residen Juwana di wilayah Jawa Tengah masa kini. Opium memang tidak tumbuh di Jawa, tetapi didatangkan oleh para saudagar Arab yang terkenal sebagai pedagang madat di daerah lain,  diduga dari Turki dan Persia. Ketika itu Papaver somniverum sudah menjadi komoditas penting dalam perdagangan di Asia Tenggara. Tak heran bila madat menjadi komoditi yang diperebutkan oleh Inggris, Denmark, dan Belanda. Namun, pada akhirnya, Belandalah yang memenangkan monopoli perdagangannya, sementara pelaksanaannya dilakukan para elit China di Jawa.

Monopoli Perdagangan.

Pada 1677, Belanda melalui VOC mengadakan perjanjian dengan raja Amangkurat II dari Mataram untuk mendapatkan hak monopoli atas importasi dan perdagangan madat di wilayah kerajaan Mataram. Setahun kemudian, Cirebon melakukan perjanjian serupa diikuti oleh Kerajaan-kerajaan lain. Inilah awal dari monopoli importasi dan perdagangan madat di Pulau Jawa. Selanjutnya kolonial Belanda memperluas cakupan perjanjian sampai akhirnya meliputi seluruh wilayah tanah air. Seiring dengan itu perdagangan madat pun terus meluas dan mengalami peningkatan. Terbukti dalam kurun waktu 180 tahun (1619 – 1799) VOC telah mengimpor dan memperdagangkan 10.080 ton opium mentah ke Jawa atau sekitar 56.000 kg opium mentah per tahun.

Sejatinya jumlah madat mentah yang masuk dan diperdagangkan di Pulau Jawa jauh lebih besar dari jumlah tersebut. Rentannya pantai utara pulau Jawa terhadap penyelundupan dan tidak efektifnya pengawasan polisi Belanda menjadi penyebab tingginya jumlah madat yang masuk ke Jawa. Opium masuk secara luas khususnya di daerah pantura Jawa dengan sederet pelabuhannya serta di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta yang padat penduduknya. Di Yogyakarta saja, pada 1820, terdapat 372 tempat penjualan madat resmi yang mendapatkan lisensi dari pemegang monopoli, seperti pos dan sub pos bea cukai, serta pasar di Kasultanan Yogyakarta. Dengan diberlakukannya sistem tanam paksa dan Belanda mendirikan bandar-bandar madat resmi di sebagian besar pedalaman pulau Jawa pada 1830, madat menjadi lebih banyak tersedia sehingga penggunaannya pun dengan cepat meluas.

Gaya Hidup

Penikmat candu tersebar di berbagai kalangan dan meluas di Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada waktu itu, menghisap madat sudah termasuk gaya hidup bukan hanya penduduk perkotaan, tetapi juga penduduk pedesaan Jawa. Di Jawa Tengah, tamu laki-laki disuguhi madat pada pesta-pesta kaum bangsawan. Dalam masyarakat desa dan perkebunan yang lebih bersahaja, perayaan-perayaan yang menandai berakhir panen padi atau dimulainya masa petik kopi, sering kali disertai dengan dibagikannya madat di kalangan kaum laki-laki. Menurut warga Bojonegoro pada 1890 pada pesta di desa-desa sudah menjadi kebiasaan bagi tuan rumah untuk menyediakan madat bagi orang-orang yang menghisapnya. Para pamong desa yang hadir pun dijamu madat.

Madat juga menarik bagi orang-orang seperti musisi. pengembara, pemain teater rakyat, pedagang keliling, tukang, dan pekerja upahan yang jumlahnya terus meningkat, seperti para pemasang rel kereta api, pemetik buah kopi, pemotong tebu dan pengangkat barang-barang impor dan ekspor. Mereka umumnya memakai candu untuk menikmati sensasi khayalan, merajut mimpi dan mengurangi pegal-pegal di badan. Bagi kalangan Belanda, penggunaan madat diasosiasikan dengan perilaku buruk orang-orang Indo dan penduduk daerah kumuh perkotaan. Namun di kalangan etnis China, madat merupakan gaya hidup dari orang China kaya yang menikmati pipa madat di rumah-rumah mereka dan klub-klub madat pribadi. Hanya sedikit etnis China kaya di Semarang yang bebas dari madat. Bahkan suatu kehormatan bagi tamu-tamu di rumah etnis China bila mereka ditawari madat.

Walaupun secara individual orang etnis China mengonsumsi madat lebih banyak dibandingkan orang pribumi, bahkan pecandu madat terparah adalah etnis China, tetapi mereka hanyalah bagian terkecil dari pasar madat. Sebagian besar madat dikonsumsi oleh orang jawa. Hal berbeda terjadi di Banten dan tanah Pasundan. Di kedua wilayah tersebut jumlah pecandu sedikit. Budaya, moral, dan agama Islam yang kuat di kalangan masyarakatnya telah menjadi benteng yang memagari opium di wilayah tersebut. Bahkan, pada abad 19, tanah pasundan dan Banten tertutup bagi perdagangan opium dan tidak boleh ada Bandar opium resmi. Menurut james R Rush ketika kemudian Belanda berhasil membuka perdagangan madat di wilayah tersebut, jumlah pemakainya pun jauh lebih kecil dibandingkan daerah lain seperti Surakarta, Yogyakarta, Kediri, Madiun, Rembang, Kedu, Pasuruan, dan Probolinggo.

Analgesik

Pada 1680, dokter asal inggris thomas Syndenham pernah menulis, “Diantara semua obat-obatan yang disediakan bagi manusia atas perkenaan Tuhan, tidak ada yang semanjur dan seuniversal opium untuk meringankan penderitaan”. Secara klinis, sampai saat ini morfin (turunan dari opium) adalah obat paling unggul untuk menghilangkan rasa sakit dan dipergunakan sebagai pengobatan resmi, meskipun penyalahgunaannya juga meluas di seluruh pelosok dunia. Karakter analgesik opium yang dapat meredakan rasa sakit inilah yang diduga menjadi penyebab benda itu disukai orang Jawa. Maklum, pada masa itu fasilitas layanan kesehatan tidak memadai dan lingkungan tinggal yang tidak sehat menyebabkan banyak penyakit merebak di masyarakat seperti diare, malaria, tipus, campak, dan demam.

Hal tersebut pun dibuktikan dalam suatu survei di kalangan pemakai pada 1890. Banyak yang mengaku, awalnya mereka mencoba opium untuk meringankan penderitaan atas keluhan sakit kepala, asma, demam biasa hingga malaria, disentri, tuberkulosis (batuk berdarah), menghilangkan letih-lesu, bahkan mengobati penyakit kelamin. Sementara di kalangan para seniman yang harus begadang karena pekerjaan, seperti sinden, dalang, penari, dan pemain teater, madat diyakini dapat membuat mereka kuat terjaga dan tetap bugar. Bahkan sempat ada anggapan, nyeret dapat meningkatkan vitalitas, gairah seksual, dan euforia, sampai-sampai tertulis dalam syair Jawa “Suluk Gatoloco” karya priyaji Jawa yang menguasai tradisi dan mistik. Gatoloco tokoh dalam syair itu, berwujud kelamin laki-laki yang membentengi diri dengan menelan opium dan merasakan kekuatan candu yang memabukkan tersebut menyebar keseluruh tubuh dan membuat seluruh kekuatannya kembali.

Antimadat

Meski penggunaan candu meluas di kalangan masyarakat Jawa, namun sebenarnya pandangan orang Jawa terhadap candu tidaklah sama. Pada masa itu pun sudah ada kelompok antimadat yang berjuang untuk memeranginya dan menabukan candu dengan memasukkannya pada larangan ”molimo”. Molimo adalah ajaran moral yang melarang kaum laki-laki berbuat lima kegiatan yang berawalan dengan huruf M, yaitu maling (mencuri), madon (main perempuan), minum (alkohol), main (berjudi) dan madat (menghisap candu). Penguasa Surakarta Raja Paku Buwono IV yang memerintah pada 1788 – 1820 pun menuliskan ajaran moral yang benar dalam syair panjang Wulang Reh (ajaran berperilaku benar). Ia menggambarkan pemadat sebagai pemalas dan orang yang bersikap masa bodoh, yang hanya gemar tidur di bale-bale untuk menghisap candu. “Jauhi madat, madat tidak baik untukmu semua, menghisap madat itu tidak baik”. tulisnya.

Di pihak Belanda juga tumbuh gerakan etis sejak 1880, yang dilakukan untuk meningkatkan kemakmuran warga, termasuk pribumi. Tahun-tahun etis tersebut ditandai dengan perluasan kesempatan pendidikan bagi penduduk dan upaya perbaikan kesejahteraan lainnya termasuk peraturan mengenai peredaran madat. Pada masa itu Belanda membentuk suatu lembaga khusus, bernama Regi, untuk meluruskan kesalahan di masa lalu. Sejak itu semua urusan opium dipusatkan di Ibukota, juga pabrik-pabrik opium yang dulu tersebar di daerah dan dikuasai para bandar yang menghasilkan produksi dengan variasi luas, baik dari kualitas dan citarasa, kini dipusatkan di Batavia dalam bentuk produksi yang seragam. Birokrasi dalam pembuatan dan peredaran opium juga mulai ditetapkan untuk mengantisipasi penyalahgunaannya. Dengan adanya sistem tersebut, tren total peredaran opium di Indonesia pun turun. Sayang, seiring waktu dengan merdekanya bangsa Indonesia dari penjajah juga membuat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba semakin merajalela. Bahkan jenisnya pun semakin beragam. Bila dulu opium atau madat, kini ekstasi dan sabu yang menjadi tren. Hal itu pun membuktikan perang candu masih terus bergulir dan diperlukan keseriusan untuk mengatasinya dengan sungguh-sungguh. (SINAR BNN Edisi VII/2011)

Penuhi Kebutuhan Biji Utuh dengan Sereal Sarapan

beragam biji-bijian

beragam biji-bijian

Kebutuhan serat setiap hari biasanya dipenuhi dari buah dan sayur. Sebenarnya biji-bijian utuh juga bisa dimasukkan sebagai salah satu sumber pemenuhan kebutuhan serat. Menariknya, selain serat, biji-bijian utuh juga mengandung antioksidan yang baik bagi tubuh. Nasi merah, gandum utuh, padi gogo, jagung, dan sereal sarapan adalah beberapa sumber biji-bijian utuh.

Orang Indonesia sudah mengenal beras merah, jagung maupun padi gogo. Bukan hanya mengenal, tetapi juga menjadi santapan sehari-hari. Banyak manfaat yang diperoleh dari sumber makanan yang tergolong dalam biji-bijian utuh tersebut. Dalam situs WebMD disebutkan bahwa konsumsi lebih banyak biji utuh adalah cara mudah untuk membuat diet lebih sehat. Mengapa demikian ? Tak lain karena biji utuh padat nutrisi. Biji-bijian utuh merupakan sumber karbohidrat kompleks yang baik ditambah dengan adanya vitamin dan mineral. Biji-bijian ini secara alami juga tergolong rendah lemak, sehingga dapat dijadikan pilihan makanan yang menyehatkan. Selain itu, biji-bijian utuh juga mengandung protein, polifenol, vitamin B, antioksidan, dan mineral.

Kaya Serat

Biji utuh bisa menjadi sumber serat yang baik. Gandum utuh misalnya, mengandung 12,2 gram serat per 100 gram. Setiap 100 gram oat utuh mengandung 10,3 gram serat, sedangkan 100 gram beras merah 1,8 gram serat. Dengan kandungan serat serta sejumlah nutrisi lain, biji-bijian utuh dapat dijadikan bagian penting dalam diet sehat. Dietary Guideliness for Americans 2010 merekomendasikan setidaknya setengah dari biji-bijian yang disantap adalah biji utuh. Saran tersebut akan mendorong masyarakat menyantap lebih banyak biji-bijian utuh. Berita baiknya lagi, biji-bijian utuh dikaitkan dengan resiko lebih rendah terhadap sejumlah penyakit. Studi menunjukkan, konsumsi whole grain 3 porsi atau sekitar 48 gram per hari menurunkan resiko kelebihan berat badan, diabetes melitus, penyakit jantung.

Rekomendasi Tiga Porsi

Melihat sedemikian banyaknya manfaat dari biji-bijian utuh, sejumlah negara memberi rekomendasi asupannya. Di Denmark contohnya, direkomendasikan asupan biji-bijian utuh 75 gram per hari. Sejumlah ahli gizi di beberapa negara menyarankan konsumsi biji-bijian atau gandum utuh setidaknya 48 gram atau setara dengan 3 porsi sehari. Di Indonesia, menurut Prof. DR. Hardinsyah, MS, ahli gizi dan pangan dari IPB, belum ada rekomendasi asupan biji-bijian utuh dari makanan. Sejumlah sumber biji-bijian utuh di Indonesia bisa diperoleh dari jagung rebus, popcorn, maupun padi gogo. Sayangnya, kebanyakan dari kita tetap masih kurang mengonsumsi biji utuh. Sebagai contoh, rata-rata orang Amerika saja baru mengonsumsi kurang dari satu porsi setiap hari, dan lebih dari 40 persen tidak pernah mengonsumsi biji utuh sama sekali.

Ada beberapa penyebab terjadinya kondisi tersebut. Salah satunya, tidak selalu mudah untuk mengetahui makanan apa saja yang mengandung biji utuh. Penyebab lainnya, masih banyak orang beranggapan bahwa biji utuh tidak enak atau sulit untuk memasukkan dalam diet sehari-hari. Alasan lainnya, waktu memasak yang lama, memicu perut kembung, ketersediaan di restoran, supermarket, harga, rasa, dan kurang variasi. @garrybaldhi

Analisis Biokimia sebagai Bukti Hubungan Kekerabatan

DNA_animation

struktur DNA

 

 

Dasar klasifikasi yang dipergunakan oleh sistem filogeni banyak diperoleh dari keterangan-keterangan dan informasi baru sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan biokimia mengenai struktur gen, DNA (asam deoksiribonukleat), RNA (asam ribonukleat) serta struktur protein. Beberapa teknik baru yang lebih maju tentang analisis kimia pada tubuh organisme memberikan beberapa petunjuk tentang hubungan kekerabatan antar mahluk hidup.

Beberapa analisis kimia tentang protein DNA telah dilakukan. Dari penelitian terhadap organisme yang seragam (banyak kemiripan) ternyata dijumpai pula DNA dan protein yang mirip. Sebaliknya, pada organisme yang berbeda ternyata DNA juga berbeda. Sebagai contoh, bila struktur DNA suatu organisme dibandingkan dengan DNA organisme lain dari genus yang sama, perbedaannya lebih sedikit daripada bila DNA tersebut dibandingkan dengan struktur DNA organisme dari genus yang berbeda.

Pertanian Terpadu Sapi-Kelapa Sawit

pemberian pakan berupa bungkil kelapa sawit

pemberian pakan berupa bungkil kelapa sawit

Beternak sapi identik sebagai usaha budidaya yang kurang menguntungkan. Pertambahan bobot ternak lamban karena pemberian pakan umumnya kurang variatif. Belum lagi kandang becek dan bau kotoran. Ternak dihinggapi pacet dan sejumlah jenis serangga pengisap darah. Penyakit kerap muncul jika sapi tak dirawat telaten.

Dengan harga bibit yang relatif mahal, sekitar Rp 6 juta per ekor, sapi jantan umumnya layak dijual setahun kemudian, dengan potensi harga yang bertambah 30 – 50 persen saja dari nilai pembelian. Walaupun harga daging sapi kini sedang mahal-mahalnya, keuntungan tidak serta merta dirasakan petani. Dengan upaya perawatan ternak intensif serta biaya-biaya tambahan untuk mendongkrak bobot dan protein ternak, bisa dibilang beternak sapi hanya dianggap sebagai tabungan keluarga. Sapi dijual ketika petani sedang butuh uang dalam jumlah besar untuk membayar biaya sekolah atau menikahkan anak. Namun, sapi kurang menggiurkan sebagai sebuah usaha kecuali bagi pedagang yang hanya melakukan bisnis jual beli sapi.

Itulah yang terjadi ketika petani menjalankan model lama gambaran diatas. PT Perkebunan Negara (PTPN) VI tengah merintis budidaya sapi dengan metode lain yang hasilnya diyakini lebih menguntungkan. Perusahaan mengelola sapi secara terintegrasi dengan perkebunan sawit setempat. Mereka menyebutnya program integrasi sawit sapi (ISS). Ada hubungan saling menguntungkan diantara kedua jenis budidaya ini. Bagaimana hubungan itu bisa memberikan keuntungan lebih ? Sejak ISS digagas Kementerian BUMN setahun lalu, PTPN VI mendapat alokasi untuk beternak 10.000 sapi di areal perkebunan inti perusahaan. Sekitar Rp 3 Miliar sudah dikeluarkan untuk menjalankan program  ini. Sebuah nilai yang besar dan sulit dijalankan bagi kalangan perorangan ataupun kelompok petani. Namun, Kepala Urusan Perencanaan dan Analisis Proyek PTPN VI Irvan meyakini metode ini akan menguntungkan dalam jangka  panjang. Biaya besar memang keluar untuk investasi awal antara lain membangun kandang dan membeli mesin pengolah pakan. Selanjutnya, ISS justru mendatangkan keuntungan.

Pakan sapi tidak harus berupa rumput hijauan. Pelepah dan bungkil sawit yang awalnya tidak termanfaatkan, kini sudah bisa menjadi pakan alternatif sapi yang bernilai tinggi. Di perkebunan sawit, pelepah dan bungkil biasanya membusuk begitu saja dilahan walaupun dalam jangka panjang akan berproses alami menjadi pupuk. Saat ini terdapat 1700 ekor sapi dalam kandang ISS. Setiap hari, satu ekor sapi di kompleks ISS Maro Sebo membutuhkan 10 kilogram pakan yang terdiri dari batang pelepah sawit dan bungkil serta campuran ampas ubi kayu, dedak, dan tetes tebu. Sebanyak 85 persen bahan diperoleh dari kebun sawit. Hasilnya, bobot sapi bertambah dari sebelumnya 0,8 kilogram per hari menjadi 1 kilogram per hari. Sapi dapat dipanen dalam jangka waktu enam bulan saja dengan nilai jual rata-rata Rp 10 juta dalam bobot total diatas 300 kg.

Mengapa bobotnya bertambah sedemikian signifikan? karena melalui pemanfaatan jenis-jenis pakan ini terjadi peningkatan volume daging sapi. sapi memperoleh asupan protein yang lebihi tinggi dibandingkan jika mengonsumsi rumput hijauan semata. Tidak hanya itu, tandan kosong sawit juga dimanfaatkan sebagai alas kandang. Tandan diolah menjadi fiber yang berfungsi menyerap air. Walaupun sapi membuang kotoran dan kencing dalam kandang, hamparan lantai tetap kering. Dengan demikian, kotoran tidak menempel pada badan walaupun ternak ini merebahkan badan. Tumpukan kotoran tersebut malah memberikan kehangatan bagi sapi, kulit sapi tetap bersih tanpa perawatan tambahan.

Kandang pun relatif kering dan wangi minyak sawit. Ditambah lagi pemanfaatan fiber pada atap kandang menjadikan suhu lebih hangat. Hampir tidak ada lalat penghisap darah ataupun pacet disana. Kondisi ini berbeda dengan kandang sapi pada umumnya. Dalam kondisi kandang bersih, hangat, dan nyaman tinggal, pertumbuhan sapi menjadi lebih cepat. Selanjutnya kotoran sapi dipanen satu bulan sekali dan langsung siap menjadi pupuk. Saat ini, produksi pupuk organik yang mencapai 100 ton per hari sudah dimanfaatkan untuk pemupukan campuran pada 300-an hektar tanaman sawit dikebun inti PTPN VI.  Nilai jual pupuk yang mencapai Rp 1250 /kg menguntungkan perusahaan. Dengan terus menambah jumlah sapi menjadi 10.000 ekor hingga tiga tahun ke depan, produksi pupuk organik diperkirakan mencapai 500 ton per hari. Melalui penjualan pupuk organik ke divisi perkebunan, keuntungan dapat mencapai lebih dari Rp 600 juta per hari.

Biaya pemupukan sawit dengan memanfaatkan pupuk organik memungkinkan penghematan hingga Rp 10 miliar / tahun. Berawal dari situ, PTPN tertarik membangun pabrik pupuk NPK majemuk organik pada tahun depan. Produksi pupuk organik akan menggantikan 10 persen kebutuhan pupuk tanaman sawit di perkebunan inti PTPN. kelemahan program ISS, sejauh ini, masih sulitnya memperoleh bibit dalam kuantitas besar. PTPN sebelumnya memesan 2000 bibit dari Lampung, tetapi stok setempat kini terbatas. Pihaknya harus mencari bibit sapi hingga ke wilayah jawa. Terlepas dari kesulitan yang ada, program ini layak dilanjutkan. Syaratnya adalah terbukanya pasar, baik untuk bibit maupun hasil panen. Dengan demikian, target nasional atas swasembada daging bisa tercapai dengan cepat. Itu tidak mustahil. @Garrybaldhi

Kiat Menuju Wirausaha Sukses

Delapan anak tangga ini dapat pula digunakan oleh seorang wirausaha dalam mengembangkan profesinya (Murphy and Peck, 1980 : 8)

a. Mau Kerja Keras (Capacity for Hard Work)

Kerja keras merupakan modal dasar untuk keberhasilan seseorang. Demikianlah setiap pengusaha yang sukses selalu menempuh saat-saat ia harus bekerja keras membanting tulang dalam merintis perusahaannya. Seorang pengusaha taksi mungkin tadinya ia hanya seorang sopir angkutan umum, seorang pengusaha tekstil mungkin tadinya seorang pedagang kredit atau tukang jahit, dan banyak lagi contoh yang dapat kita jumpai dalam riwayat hidup pengusaha yang sukses.

b. Bekerjasama dengan Orang Lain (Getting Things Done With and Through People)

Seorang wirausahawan mudah bergaul, disenangi oleh masyarakat. Dia tidak suka fitnah, sok hebat, arogan, tidak suka menyikut, menggunting dalam lipatan, menohok kawan seiring, dan sebagainya. Dia harus berperilaku yang menyenangkan bagi semua orang, sehingga memudahkannya bekerjasama dalam mencapai keberhasilan.

c. Penampilan yang Baik (Good Appearance)

Ini bukan berarti penampilan body face/muka yang elok atau paras cantik. Akan tetapi lebih ditekankan pada penampilan perilaku jujur, disiplin. Banyak orang tertipu dengan rupa dan elok tetapi ternyata orangnya penipu ulung. Ingatlah, pribadi yang baik dan jujur akan disenangi orang dimana-mana dan akan sukses bekerjasama dengan siapa saja.

d. Yakin (Self confidence)

Self confidence ini diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, melangkah pasti, tekun, sabar, tidak ragu-ragu. Setiap hari otaknya selalu berputar membuat rencana dan perhitungan-perhitungan alternatif. Dia bisa saja menguji buah pikirannya dengan teman-teman lain, baik yang pro maupun yang kontra dengan rencananya.

e. Pandai Membuat Keputusan (Making Sound Decision)

Jika dihadapkan pada alternatif, harus memilih, maka buatlah pertimbangan yang matang. Kumpulkan berbagai informasi, boleh minta pendapat orang lain, setelah itu ambil keputusan, jangan ragu-ragu. Dengan berbagai alternatif yang ada dalam pikirannya ia akan dapat mengambil keputusan terbaik.

f. Mau Menambah Ilmu Pengetahuan (College Education)

Pendidikan ini bukan berarti harus masuk perguruan tinggi, melainkan pendidikan dalam bentuk kursus-kursus, penataran di kantor, membaca buku, dan sebagainya. Pendidikan College dalam bentuk diploma akan sangat membantu seseorang menemukan dan mengembangkan jiwa serta operasional wirausaha. Akan tetapi, hal penting disini ialah bagaimana tambahan pengetahuan.

g. Ambisi Untuk Maju (Ambition Drive)

Kita jangan loyo, pasrah menyerah tak mau berjuang. Kita harus punya semangat tinggi, mau berjuang untuk maju. Orang-orang yang gigih dalam menghadapi pekerjaan dan tantanga, biasanya banyak berhasil dalam kehidupan. Apapun jenis pekerjaan yang dilakukan, profesi apapun yang dihadapi, kita harus mampu melihat kedepan, dan berjuang untuk menggapai apa yang diidam-idamkan.

h. Pandai Berkomunikasi (Ability to Communicate)

Pandai berkomunikasi berarti pandai mengorganisasi buah pikiran ke dalam bentuk ucapan-ucapan yang jelas, menggunakan tutur kata yang enak didengar, mampu menarik perhatian orang lain. Komunikasi baik, diikuti dengan perilaku jujur, konsisten dalam pembicaraan akan sangat membantu seseorang dalam mengembangkan karir masa depannya. Akhirnya dengan keterampilan berkomunikasi itu seseorang dapat mencapai puncak karir, meraih kursi empuk idaman setiap orang.

Langkah Menuju Keberhasilan Kewirausahaan

Steinhoff & John f. Burgess mengemukakan beberapa karakteristik yang diperlukan untuk mencapai The Building Up Enterprenurial Success, sebagai berikut :

  • Take responsibility for success or failure
  • Take responsibility for success or failure
  • Develop Relationship with consumer, employers, suppliers and others
  • Work hard with a sens of urgency
  • Plan, organize, follow through
  • Be willing to risk time and money
  • Have a business goal or vision

Untuk menjadi wirausaha yang sukses, pertama-tama harus memiliki ide atau visi bisnis (business vision) yang jelas, kemudian ada kemauan dan keberanian untuk menghadapi resiko baik waktu maupun uang. Apabila ada kesiapan dalam menghadapi resiko, langkah berikutnya adalah membuat perencanaan usaha, mengorganisasikan, dan menjalankannya. Agar usahanya berhasil, selain harus kerja keras sesuai dengan urgensinya, wirausaha harus mampu mengembangkan hubungan, baik dengan mitra usahanya maupun dengan semua pihak yang terkait dengan kepentingan perusahaan.

Ide –> Kemauan & Kemampuan –> Semangat & Kerja Keras –> Loyaitas dan Tanggung Jawab

(Langkah menuju kewirausahaan yang berhasil)

Faktor Penyebab Keberhasilan dan Kegagalan Kewirausahaan

Seperti telah dikemukakan, bahwa keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat tergantung pada kemampuan pribadi wirausaha. Zimmerer (1996) mengemukakan beberapa faktor-faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya, adalah :

a. Tidak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil.

b. Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan teknik, kemampuan memvisualisasikan usaha, kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumberdaya manusia maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.

c. Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik, faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan memelihara aliran kas akan menghambat operasional perusahaan & mengakibatkan perusahaan tidak lancar.

d. Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.

e. Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.

f. Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi dan efektifitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak efektif.

g. Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal adalah besar.

h. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan, transisi kewirausahaan. Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, maka ia tidak ada jaminan untuk menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.

 

Selain faktor-faktor yang membuat kegagalan kewirausahaan, Zimmerer (1996) mengemukakan beberapa potensi yang membuat seseorang mundur dari kewirausahaan, yaitu:

a. Pendapatan yang tidak menentu. baik pada tahap awal maupun tahap pertumbuhan, dalam bisnis tidak ada jaminan untuk terus memperoleh pendapatan yang berkesinambungan. Dalam kewirausahaan, sewaktu-waktu adalah rugi dan sewaktu-waktu juga ada untungnya.

b. Kerugian akibat hilangnya modal investasi. Tingkat kegagalan bagi usaha baru sangatlah tinggi. Menurut Yuyun Wirasasmita (1998), tingkat mortalitas, kegagalan usaha kecil mencapai 78 persen. Kegagalan investasi mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha. Bagi seorang wirausaha, kegagalan sebaiknya dipandang sebagai pelajaran berharga.

c. Perlu kerja keras dan waktu yang lama. Wirausaha biasanya bekerja sendiri dari mulai pembelian, pengolahan, penjualan, dan pembukuan. Waktu yang lama dan keharusan bekerja keras dalam berwirausaha mengakibatkan orang yang ingin menjadi wirausaha menjadi mundur. Ia kurang terbiasa dalam menghadapi tantangan. Wirausaha yang berhasil pada umumnya menjadikan tantangan sebagai peluang yang harus dihadapi dan ditekuni.

d. Kualitas kehidupan yang tetap rendah meskipun usahanya mantap. Kualitas kehidupan yang tidak segera meningkat dalam usaha, akan mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha.

Oase Di Perbukitan Kapur

Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, selalu identik dengan kekeringan. Namun, hal tersebut terbantahkan begitu memasuki Kecamatan Ponjong.

Berbeda dengan wilayah Gunung Kidul lainnya, Ponjong memiliki sumber air berlimpah yang menjadikan petani dianugerahi panen tiga kali setahun. Dengan potensi air yang berlimpah, di kecamatan ini juga dibangun wahana wisata air yang disebut Waterbyuur. Kondisi Geografis Ponjong sangat berbeda dengan daerah lain di Gunung Kidul. Memasuki kawasan ini akan terlihat hamparan sawah nan hijau di kanan dan kiri jalan. Pemandangan semacam ini tidak hanya terlihat di musim penghujan, tetapi juga pada musim kemarau.

Berkah melimpah itu tak lepas dari keberadaan dua mata air utama, yaitu Dam Beton dan Sumber Ponjong. Kelimpahan air itu juga dirasakan warga Desa Ponjong. Di Desa Ponjong sejak dahulu kala air dari sumber Ponjong selalu mengalir dengan debit rata-rata 60 liter per detik. Setiap hari sumber Ponjong mampu mengaliri 80 hektar sawah, 30 kolam milik warga, dan mencukupi kebutuhan untuk minum, mandi, dan mencuci bagi warga Ponjong. Namun meski dimanfaatkan terus-menerus oleh warga, sumber mata air itu tak pernah surut.

Bangun Waterbyuur

Tahun 2009, desa Ponjong mendapatkan bantuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri perkotaan sebesar Rp 1 miliar. Berdasarkan serapan aspirasi masyarakat, sebanyak 11 dusun di desa Ponjong sepakat memanfaatkan dana itu untuk pembangunan sumber Ponjong. Konsep pembangunan sumber Ponjong sederhana, yaitu memanfaatkan potensi air yang melimpah agar lebih efektif dan efisien. Setelah melalui sejumlah pembahasan, warga sepakat membangun wahana wisata air atau waterboom berukuran kecil, bernama waterbyuur. Dana Rp 1 miliar dari PNPM Mandiri perkotaan dibagi tiga pos, yaitu Rp 700 juta untuk pembangunan fisik, Rp 200 juta untuk perencanaan desain, dan Rp 100 juta untuk pemasaran. Pembangunan proyek desa ini dimulai pada peralihan tahun 2011 ke 2012.

Pembangunan waterbyuur tetap melibatkan swadaya masyarakat. Sesuai kemampuan masing-masing, warga menyumbang berbagai material, seperti batu, pasir, atau semen. Enam bulan setelah dibangun, Waterbyuur Ponjong dibuka pada awal juni 2012. Sumber mata air yang awalnya hanya berupa kolam alam untuk mandi dan mencuci disulap menjadi wahana wisata air di atas lahan kas desa seluas tiga hektar. Bentuk fisik waterbyuur memang tidak semegah wahana wisata air modern ternama di Jakarta dan sekitarnya. Namun, bangunan baru itu kini lebih cantik dengan kolam renang besar dan arena bermain di bagian tengahnya. Dalam beberapa menit, tong air raksasa diatas kolam secara otomatis terisi air dan tumpah mengguyur pengunjung. Setelah terkena guyuran air, Pengunjung bisa terjun ke kolam dengan papan luncur.

Pengisian tong air raksasa tidak memakai pompa air listrik atau diesel, tetapi hidran otomatis dengan penggerak tekanan air yang tidak membutuhkan listrik atau bahan bakar minyak. Pengoperasian wahana air itu menjadi lebih hemat. Kolam besar Sumber Ponjong dibagi dalam tiga bak. Bak pertama berada di mata air, bak kedua dipakai warga untuk mengambil air, mencuci, dan mandi serta bak ketiga diperuntukkan khusus untuk wahana permainan air. Agar hiburan lebih beragam, pengelola waterbyuur menyediakan permainan air seperti flying fox, taman dan perahu berbentuk bebek.

Tempat hiburan baru bagi warga Gunung Kidul ini tepat berlokasi di samping Balai Desa Ponjong.

Pemasukan Desa

Di Waterbyuur Ponjong, hanya dengan membayar Rp 20.000 pengunjung bebas bermain sepuasnya. Mereka juga bisa menjajal flying fox dengan meluncur dari ketinggian 15 meter. Pengunjung juga masih disuguhi satu permainan lagi, yaitu berperahu mengelilingi kolam. Begitu dibuka, wahana air yang dikelola 10 orang ini langsung dibanjiri pengunjung. Dalam sebulan, tempat ini mampu mengumpulkan omzet Rp 12 juta. Dari pemasukan ini, 60 persen dana dipakai untuk gaji pengelola dan 40 persen lainnya untuk pemasukkan desa, BUMDes, Badan Keswadayaan Masyarakat, dan pemasukan tiap dusun. Jumlah pemasukan itu belum seberapa, tetapi BUMDes telah membuat cetak biru pengembangan Sumber Ponjong yang diharapkan mampu menjadikan tempat ini sebagai daerah tujuan wisata andalan. Dari rancangan pengembangan mikro Desa Ponjong, tempat wisata air ini akan dilengkapi dengan tempat makan, daur kuliner, saung, perpustakaan, taman bermain, tempat istirahat, kamar mandi, area pembibitan, hingga tempat sampah. Semua proyek ini akan dikerjakan oelh warga Desa Ponjong dengan konsep pemberdayaan masyarakat. Melihat potensi Ponjong yang menjanjikan, beberapa saat lalu ada investor swasta yang berniat mengembangkan waterbyuur. Namun, tawaran ini langsung ditolak warga setempat karena dengan pengelolaan bisnis murni dikhawatirkan warga tak lagi diberdayakan. Mereka tak mau mata air yang menjadi penghidupan selama puluhan tahun itu “dikuasai” oleh pemodal. Dengan pengelolaan yang serius, Sumber Ponjong yang awalnya hanya kolam kecil berubah menjadi tempat wisata.

Perubahan Iklim : Dampak dan Pentingnya Indonesia Beradaptasi

Lelehnya Es di Kutub Utara

Apa itu Perubahan Iklim ?


Perubahan iklim adalah perubahan rata-rata cuaca bumi dalam jangka panjang yang terjadi sebagai akibat atas reaksi-reaksi terhadap berbagai perubahan (baik langsung maupun tidak langsung) pada unsur-unsur iklim dan unsur-unsur pendukung eksternal, seperti fenomena alam dan kegiatan manusia. Iklim berubah, pertama karena pemanasan global yang merupakan kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Penyebab utama pemanasan global ini adalah pembakaran bahan bakar fosil, seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam, yang melepaskan karbondioksida (CO2), metana (CH4) dan dinitroksida (N2O) dikenal sebagai gas rumah kaca ke atmosfer.  Ketika atmosfer semakin kaya akan gas-gas rumah kaca ini, ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak panas dari matahari yang dipancarkan ke bumi. Rata-rata temperatur permukaan bumi sekitar 15 derajat Celcius. Selama seratus tahun terakhir, temperatur ini telah meningkat sebesar 0,6 derajat Celcius (1 derajat Fahrenheit). Para ilmuwan memperkirakan pemanasan lebih jauh hingga 1,4 – 5,8 derajat Celcius (2,5 – 10,4 derajat Fahrenheit) pada tahun 2100.

Penyebab kedua adalah penipisan lapisan ozon. Lapisan ozon dalam atmosfer bumi mempunyai peranan penting sebagai penyaring sinar ultraviolet yang dihasilkan oleh matahari. Salah satu jenis gas rumah kaca yang berkontribusi dalam penipisan lapisan ozon adalah CFCs atau sering disebut dengan istilah freon. Sampai saat ini kerusakan lapisan ozon berupa timbulnya lubang ozon (Ozone Hole), telah terjadi di langit kutub selatan. Lubang ozon ini akan terus melebar jika tidak ada tindak nyata lebih lanjut dalam menanggapi permasalahan ini. Publikasi Max Planck Institute menyebutkan, 35% dari kerusakan lapisan ozon terjadi akibat proses kimia yang kompleks. Bersamaan dengan terbentuknya awan stratosfer kutub pada musim dingin, lubang ozon akan membesar. Awan stratosfer tersebut akan menghilang pada musim panas, dan pada saat itulah lubang ozon akan mengecil. Akan tetapi, udara dipermukaan bumi akan menjadi lebih panas akibat efek rumah kaca yang ditimbulkan oleh polusi. Sementara itu pada saat yang sama, suhu udara di atmosfer tetap dingin. Sebagai konsekuensi, awan stratosfer akan bertahan lebih lama, dan ini membuat lubang ozon menjadi semakin membesar.

Selain karena meningkatnya emisi gas-gas rumah kaca dan penipisan lapisan ozon di atmosfer, meningkatkan suhu bumi menjadi lebih parah karena dunia juga banyak kehilangan pohon yang banyak meyerap karbon dioksida sehingga proses fotosintesis karbon dioksida berfungsi sebagai ‘rosotan’ (sinks) atau ‘penyerapan’ (sequestration) karbon pun berkurang drastis. Kehancuran hutan Indonesia misalnya, dari tahun ke tahun berlangsung makin cepat saja, dari 600.000 hektar per tahun pada tahun 1980an menjadi sekitar 1,6 juta hektar per tahun di penghujung tahun 1990an. Akibatnya tutupan hutan menurun secara tajam dari 129 juta hektar pada tahun 1990 menjadi 82 juta di tahun 2000 dan diproyeksikan menjadi 68 juta hektar di tahun 2008, sehingga kini setiap tahun Indonesia terus mengalami penurunan daya serap karbon dioksida.

salah satu penyebab pemanasan global

Dampak Perubahan Iklim di Indonesia

Indonesia telah mengalami perubahan iklim. Efeknya pun telah dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia. Dalam jurnal UNDP Climate Change Inside , disebutkan bahwa iklim di Indonesia banyak dipengaruhi oleh ‘El Nino-Southern Oscillation’ (ENSO), yaitu perpaduan dari fenomena El Nino, La Nina, dan ‘Osilasi Selatan’ (Southern Oscillation). ‘El Nino menyebabkan perubahan arus laut di Samudera Pasifik yang berdampak pada perubahan suhu air laut menjadi luar biasa hangat. Sebaliknya perubahan arus laut menjadi sangat dingin disebut La Nina. Dalam hal ini, La Nina berkaitan dengan ‘Osilasi Selatan’ (Southern Oscillation), yaitu perubahan tekanan atmosfer di wilayah selatan. El Nino-Southern Oscillation (ENSO) inilah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya berbagai cuaca ekstrim di Indonesia.

Selain ENSO, lokasi dan pergerakan siklon tropis di wilayah selatan timur Samudera India (Januari sampai April) dan sebelah timur Samudera Pasifik (Mei sampai Desember) juga berpengaruh terhadap iklim di Indonesia. Angin kencang dan curah hujan tinggi selama berjam-jam atau bahkan sampai berhari-hari dapat terjadi di beberapa bagian wilayah Indonesia. Disamping itu, angin kencang juga sering terjadi selama peralihan angin muson (angin musim hujan) dari arah timur laut ke barat daya.

Dalam kurun waktu 7 tahun dari 1998-2004, telah terjadi sekitar 1210 kejadian bencana dengan 402 kali banjir, 102 kali angin topan, 294 kali tanah longsor, 51 kali kbakaran hutan, 192 kali kebakaran, dan 169 kejadian bencana lainnya dengan kerusakan hampir diseluruh propinsi di Indonesia.

Akibat ketidakteraturan dalam pola iklim dan curah hujan, diperkirakan di masa yang akan datang sebagian wilayah Indonesia terutama di sebelah selatan khatulistiwa, dapat mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan musim hujan yang lebih pendek disertai dengan curah hujan yang lebih tinggi. Disaat terjadi peningkatan suhu, ini akan berdampak terhadap menurunnya kelembaban tanah dan sumber air tanah, yang kemudian akan diikuti dengan degradasi lahan, dan pada akhirnya mengakibatkan banyak lahan berubah menjadi gurun tandus.

Masyarakat umum Indonesia saat ini telah semakin merasakan dampak dari perubahan iklim yang terjadi dewasa ini. Pergantian cuaca yang tidak menentu mempengaruhi kondisi dan stamina kesehatan masyarakat, dimana hal ini menyebabkan banyak orang yang menjadi rentan terhadap penyakit. ditambah lagi, kenaikan suhu udara akan mengubah pola-pola vegetasi dan juga penyebaran serangga seperti nyamuk yang akan mampu bertahan di wilayah-wilayah sebelumnya terlalu dingin untuk perkembangbiakan mereka, selain itu stres akibat cuaca yang panas, alergi, penyakit pernapasan (udara panas memperbanyak polutan, spora old, dan serbuk sari di udara), dan penyakit tropis lain seperti demam kuning dan  enchepalitis akan banyak menjangkiti masyarakat dunia.

Masyarakat pesisir, dalam hal ini, tentu saja adalah salah satu pihak yang berada dalam posisi sulit bilamana terjadi perubahan iklim. Merekalah yang pertama kali akan terancam bahaya air pasang, bahkan pada akhirnya kehilangan tempat tinggal akibat penyusutan daratan yang disebabkan oleh peningkatan permukaan air laut. Kenaikan permukaan air laut akan mempercepat erosi di wilayah pesisir, memicu intrusi air laut ke air tanah, merusak lahan rawa di pesisir, dan menenggelamkan pulau-pulau kecil. Bagi para nelayan, mereka akan terancam kehilangan mata pencaharian mereka sebagai nelayan jika kondisi lautan semakin lama semakin menunjukkan bahaya badai. Ditambah lagi, peningkatan suhu air laut dapat mencegah perkembangbiakan plankton dan mengurangi persediaan makanan ikan, yang mengakibatkan migrasi beberapa spesies ikan. Keadaan ini akan semakin mempersulit kehidupan para nelayan Indonesia.

Sementara itu dalam sektor pertanian, tidak dapat dipungkiri, bahwa sebagai negara agraris, Indonesia sangat bergantung pada sektor pertanian. Sementara itu, pertanian sangat bergantung pada iklim, sehingga jika timbul ketidakseimbangan dalam iklim, akan terjadi ketidakstabilan pada pertanian. Sebagai contoh, selama kurun waktu 1960-1990 dan 1991-2003 disebagian besar wilayah Sumatera terjadi keterlambatan awal musim hujan antara 10 hingga 20 hari dan 10 hingga 60 hari untuk awal musim kemarau yang berdampak terhadap aktivitas pertanian diwilayah itu. Ditambah lagi, sebagian besar petani Indonesia sampai saat ini masih menerapkan sistem pertanian tradisional, dimana dalam penerapannya sistem pertanian ini sangat mengandalkan iklim.

Perubahan iklim banyak memberi dampak terhadap ketahanan pangan Indonesia. Ini ditandai dengan penurunan luas lahan dan produktivitas tanaman pertanian, terutama di wilayah pesisir pantai akibat peningkatan permukaan air laut. Total tanaman padi yang terendam banjir pada tahun 1995 hingga 2005 berjumlah 1.926.636 ha (471.711 ha diantaranya mengalami puso). Sementara itu, sawah yang mengalami kekeringan pada kurun waktu yang sama berjumlah 2.131.579 ha (328.447 ha diantaranya gagal panen). Berlanjut ke tahun 2006, dari 577.046 ha sawah yang terkena banjir dan kekeringan, 189.773 ha tanaman padi mengalami gagal panen. Dengan rata-rata produksi 5 ton gabah per hektar, gabah yang terbuang akibat kekeringan dan banjir pada tahun 2006 mencapai 948.865 ton.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri, musim tanam pada tahun 2006 mengalami kemunduran dan hujan mulai turun pada tahun 2007 (sekitar 6.452 ha lahan tani hilang). Musim hujan yang tidak menentu mulai terjadi dan mengakibatkan penyusutan lahan. Pada tahun 1989 telah terjadi penyusutan lahan sebesar 52.500 ha, dan 59.500 ha pada tahun 2000. Fungsi lahan sawah mencapai 182,26 ha (0,32%) per tahun dengan kondisi ini secara rata-rata DIY kehilangan produksi sekitar 20.778 ton. Pengurangan serta penurunan kualitas hasil produksi pertanian ini pada akhirnya akan menimbulkan dampak berkesinambungan terhadap kesejahteraan para petani dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Mari Beradaptasi

Sekarang bagaimanakah masyarakat Indonesia dapat beradaptasi ? UNDP Indonesia menegaskan bahwa pilihan utama masyarakat Indonesia (utamanya masyarakat miskin) dalam beradaptasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim adalah menguatkan pemahaman dan kemampuan mereka untuk merespon secara efektif, membantu mereka menjadi lebih tangguh terhadap berbagai tekanan ekonomi, sosial, dan lingkungan yang muncul akibat perubahan iklim.

Yang Manakah Mitigasi dan Mana Pula Adaptasi ?

Ketika membicarakan mengenai perubahan iklim, para ilmuwan mungkin menggunakan kata-kata yang sangat berbeda dari makna kata itu pada umumnya. Bila mereka menyebut ‘mitigasi’ sehubungan dengan perubahan iklim, misalnya yang mereka maksudkan adalah tindakan-tindakan untuk mengurangi emisi gas-gas rumah kaca. Bila mereka bicara mengenai ‘adaptasi’, yang mereka maksudkan adalah tindakan untuk mengatasi berbagai dampak perubahan iklim.

Namun, dalam pengertian umum, kita bisa saja spontan menggunakan istilah ‘mitigasi’ dan ‘adaptasi’ secara tertukar misalnya, membicarakan mengenai ‘memitigasi efek perubahan iklim’ di Indonesia. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan tetapi biasanya maksudnya sudah jelas. Dan apapun yang terjadi, kita harus melakukan keduanya, terlepas dari apapun kita menyebutnya.

Sudah jelas, emisi gas-gas rumah kaca mesti diturunkan, sehingga mitigasi merupakan keharusan. Ini terutama menjadi urusan negara-negara maju dan negara-negara berkembang yang pertumbuhannya pesat yang perlu mengubah cara mereka menggunakan bahan bakar fosil. Itulah sebabnya banyak negara menandatangani Protokol Kyoto dalam Konvensi tersebut, yang berarti memberikan komitmen mereka masing-masing untuk menargetkan pengurangan emisi gas-gas rumah kaca. Namun mitigasi saja tidak akan memadai. Bahkan seandainya pun banyak negara menemukan cara untuk mengurangi emisi, kita tetap perlu mengatasi berbagai efek emisi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun yang lalu sebab iklim baru berubah dalam kurun waktu yang panjang. Maka kita tidak punya pilihan lain, adaptasi tidak hanya penting, tetapi juga tak terelakkan.

senyawa metana merupakan salah satu gas rumah kaca

Seluruh Departemen Pemerintahan dan Badan Perencanaan Nasional perlu mempertimbangkan dampak perubahan iklim ini kedalam program masing-masing. Berbagai persoalan besar seperti pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, perencanaan tata ruang, ketahanan pangan, pemeliharaan infrastruktur, pengendalian penyakit, perencanaan perkotaan, semua mesti ditinjau ulang dari perspektif perubahan iklim. Dampak perubahan iklim terhadap ekonomi dan pembangunan manusia harus dievaluasi secara seksama dan dipetakan. Kemudian strategi adaptasi yang mencakup penguatan sumber-sumber penghidupan dan mengurangi kerentanan masyarakat terhadap perubahan iklim harus diintegrasikan ke dalam berbagai rencana dan anggaran, baik pada tingkat pusat maupun daerah. Secara khusus adaptasi juga sangat penting dilakukan dalam bidang-bidang pertanian, wilayah pesisir, penyediaan air, kesehatan dan wilayah perkotaan, dengan air memainkan peran lintas sektoral diberbagai bidang ini.

Adaptasi dalam Pertanian

Diantara yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim adalah para petani Indonesia. Mereka, misalnya akan perlu mempertimbangkan berbagai varietas tanaman pangan. Beberapa jenis tanaman pangan memiliki kapasitas adaptasi secara ilmiah, seperti jenis padi hasil persilangan yang berbunga pada waktu dini hari sehingga dimungkinkan terhindar dari suhu lebih tinggi di siang hari. Para petani juga mungkin dapat menggunakan varietas yang lebih mampu bertahan terhadap kondisi yang ekstrem misalnya kemarau panjang, genangan air, intrusi air laut atau berbagai varietas padi yang lekas matang yang cocok untuk musim hujan yang lebih pendek. Para petani juga perlu mengupayakan cara-cara untuk meningkatkan kesuburan tanah dengan bahan-bahan organik bagi tanah supaya lebih mampu menahan air yaitu dengan menggunakan lebih banyak pupuk alamiah. Prioritas lainnya adalah pengelolaan air yang lebih baik. Caranya mungkin adalah dengan lebih banyak berinvestasi untuk irigasi dan juga dalam menampung dan menyimpan air untuk menyeimbangkan peningkatan curah hujan di bulan April, Mei, dan Juni dengan penurunan curah hujan di bulan Juli, Agustus, dan September.

Para petani pun akan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim bila mereka memiliki perkiraan cuaca yang akurat dan tahu bagaimana harus merespon perubahan itu. Jika, misalnya, mereka dapat menyesuaikan waktu tanam dengan turun hujan pertama, mereka akan dapat memanen hasil yang lebih baik karena tanaman pangan mereka memperoleh lebih banyak unsur penyubur. Atau jika mereka tahu tahun itu akan menjadi tahun kemarau, maka mereka dapat mengganti tanaman pangan, mungkin dengan menanam tanaman kacang hijau, dan bukan padi. mereka juga dapat beralih ke tanaman pangan yang lebih tinggi nilai jualnya meski hal ini bergantung pada kualitas benih dan masukan serta berbagai bantuan tambahan. Mereka juga dapat melakukan penyesuaian antara menanam tanaman pangan dan memelihara ternak.

Akhirnya, para petani yang tengah menghadapi atau sudah mengalami tahun gagal panen, dapat beradaptasi dengan bekerja dibidang non pertanian, mungkin dengan bermigrasi sementara ke daerah lain atau ke kota lain. Selain langkah-langkah adaptasi diatas, penanaman kembali hutan atau pengalihan air antar waduk, merupakan tindakan adaptasi jangka panjang yang harus dilakukan.

Adaptasi di Wilayah Pesisir

Lingkungan pesisir seperti wilayah delta pasang-surut dan pantai-pantai berpasir di pesisir yang rendah letaknya, serta pulau-pulau penyangga, wilayah rawa pesisir, muara, laguna, dan wilayah terumbu karang dan atol dapat ditimpa ancaman lebih berat. Seluruh lingkungan ini akan terancam oleh naiknya muka air laut. Dihadapkan pada berbagai efek perubahan iklim ini, masyarakat di wilayah pesisir memiliki tiga strategi dasar yaitu berlindung, mundur, atau melakukan penyesuaian.

  • Membuat Perlindungan : Untuk perlindungan, pilihan yang tampaknya paling meyakinkan barangkali adalah mendirikan bangunan yang kokoh seperti tanggul dilaut. Namun selain sangat mahal tindakan ini dapat memberikan efek samping seperti erosi dan sedimentasi. Karena itu, umumnya ada berbagai pilihan yang lebih lunak seperti menciptakan atau memulihkan wilayah rawa pesisir dan menanam berbagai varietas mangrove dan vegetasi yang dapat mengatasi perubahan salinitas yang ekstrem.
  • Mundur : Mundur hanya soal pindah tempat saja. Kebanyakan para pemilik rumah dan bisnis dapat melakukannya dengan upaya mereka sendiri, meski pemerintah setempat juga akan berperan dalam menetapkan “wilayah untuk mundur” yang mempersyaratkan pembangunan baru dilakukan dalam jarak tertentu dari sisi laut.
  • Melakukan Penyesuaian : Melakukan penyesuaian dapat dilakukan dengan berbagai cara. Barangkali, misalnya, dengang membiakkan berbagai jenis ikan ke muara, wilayah mulut sungai dan laguna, serta mengembangkan berbagai bentuk akuakultur yang baru. Masyarakat pesisir juga akan membutuhkan sistem peringatan yang lebih baik untuk berbagai peristiwa cuaca ekstrim disertai rencana evakuasi kedaruratan untuk relokasi bila terjadi kedaruratan mendadak.

Hutan Bakau bisa dimanfaatkan sebagai penahan abrasi  pantai

Adaptasi Untuk Penyediaan Air

Perubahan iklim kemungkinan memberikan dampak berat pada pelayanan penyediaan air baik terhadap pasokan maupun permintaan. Dalam hal pasokan, kecenderungan perubahan pola curah hujan akan berimplikasi terhadap produksi pangan, transportasi air dan berbagai sumber mata pencaharian yang mengandalkan air. Dalam soal permintaan, pemanasan global akan meningkatkan kebutuhan air masyarakat dan mempercepat penguapan dari permukaan tanaman dan dari sumber-sumber air seperti kolam dan danau.

Suatu pendekatan yang paling menyeluruh adalah dengan memelihara berbagai sarana pemasok air yang disebut dengan istilah ‘pengelolaan air secara terpadu’ yang menekankan pentingnya memelihara kelestarian ekosistem. Pendekatan ini perlu mempertimbangkan berbagai persoalan seperti penggundulan hutan, pengelolaan air untuk irigasi dan hubungan keduanya, serta pengurasan air tanah untuk keperluan rumah tangga, bisnis, dan pertanian.

Beberapa pilihan untuk menjamin pasokan air antara lain adalah dengan meningkatkan pasokan, memperbaiki waduk, misalnya menambal saluran, atau menampung air hujan. Pilihan lain adalah dengan mengurangi kebutuhan antara lain ialah dengan mengurangi kebocoran dari pipa-pipa atau melakukan lebih banyak upaya untuk memproses air limbah menggunakan ‘infrastruktur ramah lingkungan’ seperti saringan pasir dan pengelolaan air limbah dengan tanaman rawa (lahan basah).

Di Indonesia banyak waduk menampung air lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk kebutuhan manusia, sementara di tempat lain mengalami kekurangan yang parah, terutama waduk-waduk di Jawa dan Nusa Tenggara. Dalam kasus-kasus seperti ini, pengalihan air antar waduk akan dapat menyeimbangkan distribusi air dari wilayah yang berkelebihan ke daerah yang mengalami defisit.

Adaptasi Untuk Bidang Kesehatan

Banyak aspek kesehatan manusia dipengaruhi oleh iklim. Suhu tinggi dapat menyebabkan renjatan panas atau banjir dan longsor dapat mengakibatkan kematian atau cidera. Bisa juga pengaruh secara tidak langsung, lingkungan yang berubah mempercepat penyebaran penyakit yang disebabkan infeksi atau kekurangan air dapat mengganggu sistem kebersihan atau mengurangi hasil tanaman pangan yang kemudian dapat mengakibatkan kurang gizi. Untuk mencegah dampak fisik bencana secara langsung, dalam beberapa kasus resiko dapat dikurangi dengan reforestasi (penghutanan kembali). Seluruh masyarakat juga perlu menetapkan zona-zona yang beresiko terhadap banjir dan longsor dan membuat rencana untuk sistem peringatan dini untuk evakuasi.

Banyak tindakan adaptasi untuk kesehatan akan melibatkan penguatan sistem pelayanan dasar kesehatan dan pengobatan yang sudah ada, meluaskan penyebaran kesadaran kesehatan kepada rakyat agar lebih memperhatikan kebersihan dan soal penyimpanan air serta menghambat penyebaran penyakit melalui sistem pengawasan pola-pola penyakit lebih ketat. Pada waktu banjir, pengawasannya antara lain adalah dengan memonitor penyakit kolera. Untuk jangka panjang, pengawasan meliputi memonitor distribusi penyakit-penyakit yang disebarkan oleh nyamuk sambil memastikan rumah tangga mampu melindungi diri sendiri.

Adaptasi dalam Pengelolaan Bencana

Dari berbagai sisi, Indonesia merupakan tempat tinggal yang berbahaya, rawan terhadap berbagai macam bencana alam. Gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, kebakaran, dan berbagai kejadian cuaca yang ekstrem yang sudah begitu lumrah. Perubahan iklim akan menjadikan semua ini makin parah terutama bagi masyarakat miskin di wilayah perkotaan yag hidup seadanya di sepanjang pinggiran sungai atau bagi masyarakat pedesaan yang hidup di bawah ancaman longsor atau ancaman kemarau panjang dan kebakaran hutan.

Perubahan iklim juga akan membawa bencana yang berlangsung secara perlahan-lahan seperti kenaikan muka air laut dan intrusi air laut ke delta-delta sungai yang merusak ekosistem pesisir dan menghancurkan mata pencaharian masyarakat. Akibatnya ? lebih banyak korban jiwa, penderitaan, kemiskinan, gangguan pelayanan sosial paling mendasar, porak porandanya harta benda dan infrastruktur, kemunduran dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, serta kerusakan lingkungan hidup.

Karenanya dimasa sekarang yang terpenting adalah bagaimana kita dapat beralih ke pengelolaan yang ‘cermat’. Mengurangi risiko dan melakukan persiapan sebelum bencana itu terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah sudah mengambil langkah-langkah ke arah itu. Misalnya, Pemerintah sudah mengeluarkan Undang-Undang baru tentang Pengelolaan Bencana Nasional (Pengurangan Risiko) yang akan mendorong masyarakat berinvestasi bagi keselamatan diri masing-masing dengan mengurangi risiko kerusakan bencana. Pemerintah juga akan membuat program dialog antar Pemerintahan dan antar umum-swasta, mengenai suatu Rencana Aksi Nasional untuk mengurangi resiko Bencana. Beberapa Pemerintah Daerah bahkan sudah bergerak lebih cepat : Pemerintahan lokal Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Maluku, misalnya sudah bergerak lebih jauh menyiapkan Rencana Aksi Daerah untuk Mengurangi Resiko Bencana. Mendukung langkah adaptasi ini, perlu dibangun kapasitas yang dibutuhkan oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan berbagai rencana dan strategi ini dan memberdayakan masyarakat agar ikut memikul tanggung jawab sendiri sehingga memastikan setiap orang di Indonesia hidup dalam ‘budaya yang mementingkan keselamatan’.

Penutup

Akhirnya cara terbaik untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah beralih ke bentuk-bentuk pembangunan yang lebih berkelanjutan, belajar untuk hidup dengan cara-cara yang menghargai dan serasi dengan alam. perubahan iklim merupakan ancaman yang serius, suatu peringatan untuk menyadarkan kita. Namun, kita juga dapat menggunakan kesempatan ini sebagai momentum baru bagi upaya-upaya perlindungan lingkungan hidup kita.

Menanami kembali hutan-hutan kita, bukan saja akan meningkatkan penyerapan gas-gas rumah kaca, tetapi juga akan melindungi masyarakat dari bencana langsung longsor. Menurunkan konsumsi bahan bakar di perkotaan tidak saja akan mengurangi emisi karbon dioksida, tetapi juga akan memperbaiki kesehatan penduduk kota dan meringankan beban rakyat, terutama yang masih anak-anak dan lansia dalam bertahan pada kondisi cuaca yang ekstrem. @garrybaldhi

Halaman Terakhir itu Berjudul Pengayaan Materi

Salah Satu Halaman Dari Buku Pelajaran

“Pengayaan Materi” masih ingatkah anda dengan sepenggal materi pelajaran tersebut ? Ada ilmu Pengetahuan Benda Angkasa dan Astronomi, Ilmu Pengetahuan Kesehatan Dan Organ Reproduksi, Ilmu Pengukuran Pesawat Sederhana yang kesemuanya sempat tercantum didalam buku-buku pelajaran dimasa kita muda dahulu. Ilmu-ilmu tersebut pada dasarnya tidak wajib untuk diajarkan oleh seorang guru kepada para muridnya meski begitu bukan berarti materi itu tidak berguna untuk kemaslahatan orang banyak. Kata “pengayaan” disini memiliki arti dapat diajarkan kepada para murid sekolah jika masih ada sedikit waktu sisa pada kegiatan belajar mengajar yang boleh diisi dengan pelajaran pengayaan materi tersebut oleh para guru. Guru yang bijak tidak akan membuang sisa waktu kegiatan mengajarnya hanya dengan memberikan soal latihan kepada para muridnya melainkan juga mengisinya dengan tambahan “suplemen” ilmu dari halaman pengayaan materi. Saya tidak akan membahas kiat atau bagaimana metode pemberian materi pengayaan yang harus bapak/ibu guru lakukan kepada para muridnya di lingkungan sekolah tetapi saya akan mencoba mengaitkan esensi (intisari) dari sebuah arti “pengayaan materi” terhadap kehidupan sehari-hari. Menjadi orang kaya adalah dambaan seluruh manusia produktif, merupakan sebuah keharusan dari atas apa yang telah mereka lakukan demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Ada banyak cara manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya terlebih agar menjadi seseorang yang kaya. Mulai dari mengenyam bangku pendidikan dasar hingga sarjana dan ada pula yang mengejar mimpi tersebut dengan mengikuti berbagai kursus atau pelatihan kejuruan. Setiap orang berbeda-beda dalam memahami arti “kaya” yang sesungguhnya. Kaya bisa diartikan memiliki banyak materi yang berbentuk kebendaan misalnya mobil, rumah mewah, perabotan mewah, sawah yang banyak dan lain-lain. Sisi lain ada yang mengartikan kaya itu tidak pernah mengalami kekurangan baik dari segi ilmu, ahlak dan iman. Tentu saya tidak akan langsung menentukan arti “kaya” yang mana diantara itu yang benar. Relatif, karena kedua konsep tersebut bersifat Chain system yang artinya kedua konsep “kaya” tersebut saling berhubungan seperti rantai dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Holistik, itulah maksudnya yaitu dalam sebuah sistem terdiri dari materi-materi pembentuk interaksi yang menghasilkan output. Kedua konsep tersebut justru akan menghasilkan sebuah output bila makna “kaya” secara materi dan keterampilan saya coba satukan. Seseorang yang berilmu tinggi sudah tentu akan mendapatkan upah dari karyanya sesuai dengan standar tenaga ahli berpendidikan (skill manpower) dan sebaliknya seorang pekerja kasar juga akan mendapatkan upah dari usaha kerasnya sesuai dengan standar upah pekerja tidak berpendidikan (unskill manpower). Eksesnya, setiap pekerja sudah pasti memperoleh upahnya masing-masing sesuai dengan pengorbanan yang mereka berikan dalam bentuk harta (aset). Sampai sini giliran peran ilmu manajemen mengambil alih agar kita mampu mengelola keuangan seefisien mungkin.

Pada hakikatnya semakin banyak ilmu pengetahuan yang kita peroleh maka semakin besar kesempatan kita untuk meraih tujuan hidup. Tak peduli dengan cara dan metode apa kita belajar tetapi satu hal yang utama ialah seberapa besarkah manfaat ilmu pengetahuan bagi kelangsungan hidup ini. Ilmu yang bermanfaat ialah ilmu yang mampu membawa arah manusia menuju kemudahan dan kebaikan sehingga dapat mengubah pola kehidupan manusia yang dahulu tidak efisien menjadi lebih efisien dan efektif. Kegiatan perkuliahan bagi saya yang masih menempuhnya sedikit demi sedikit mulai terasa “kekurangannya” dalam arti kekurangan pemahaman akan materi yang notabene mengambil kasus dari lingkungan. logikanya bila ada kasus yang harus dipecahkan dengan ilmu dasar maka kita musti paham soal dan paham cara menyelesaikannya. Kebanyakan cara menyelesaikan soal-soal kasus tersebut menggunakan ilmu dasar yang telah diajarkan di Sekolah Menengah Atas. Ada pula kasus yang dapat dipecahkan menggunakan ilmu kuliah namun porsinya kecil (sekitar 25%) saja. Disini peran Pengayaan Materi sangat dibutuhkan sebab kasus-kasus yang semakin hari semakin beragam jenis dan kiat memecahkannya hanya dapat dipecahkan dengan kemampuan ekstra dari para pelajar. Pengayaan Materi tidak hanya mempengaruhi seberapa kuat kita mampu mengungkap tabir demi tabir dari kasus tersebut melainkan juga mampu mempengaruhi pola pikir dan rasa kita. Kita tidak akan merasa kekurangan hal apapun selama kekayaan intelektual dan moral masih ada didalam diri kita. Kita tidak akan mudah terbujuk rayu oleh kenikmatan dunia yang bahkan bukan hak kita untuk kita ambil sendiri. Sama halnya dengan kasus penimbunan bahan bakar minyak yang marak akhir-akhir ini. Rencana Pemerintah yang akan menaikkan harga bahan bakar minyak pada awal bulan April lalu dan kemudian diundur hingga Awal bulan July mendatang merupakan sebuah peluang kotor para pelaku penimbun yang berekspektasi meraup keuntungan tidak halal. Para pelaku kejahatan tersebut berfikir bila mereka mampu menyimpan sumber daya minyak hingga harga minyak jadi dinaikkan nanti maka keuntungan besar akan datang dan masuk kedalam saku mereka. Kekayaan non halal adalah tujuannya meski harus menipu banyak orang, perilaku tersebut jelas-jelas adalah perbuatan kejahatan. Tuhan bisa memastikan perbuatan tidak terpuji tersebut sebagai sebuah dosa yang sangat besar namun saya melihatnya lebih dari itu. Saya melihat pelaku penimbun tersebut dengan kekurangan ilmu akibat tidak dipercayainya sebuah makna “Pengayaan” bagi kehidupannya. Mereka lebih menganggap kaya harta adalah segalanya daripada berkutat dengan buku-buku pelajaran yang terkesan “kekanak-kanakan”. Lagipula faktor usia menjadi alasan kuat bagi para penimbun tersebut. Salah besar jika mereka masih belum bisa merubah anggapan bodoh itu dengan anggapan yang lebih rasional. Menurut saya, ulah mereka yang melakukan aksi kejahatan tersebut malah menunjukkan jati diri asli mereka yang miskin ilmu dan materi. Masyarakat akan cepat memberikan predikat bodoh, miskin dan hina kepada mereka ketika mereka tertangkap melakukan hal-hal ilegal tersebut. Masyarakat akan lebih menghormati dan menghargai seseorang warga yang lebih baik patuh dan taat terhadap aturan perundang-undangan yang berlaku ketimbang melanggarnya. Termasuk para pelaku yang membeli bensin menggunakan jeriken, saya cenderung melihat hal tersebut sebagai perbuatan yang menunjukkan sudah semiskin itu kondisi masyarakat kita akhir-akhir ini sampai-sampai tidak mampu membeli seliter bensin yang Bapak Mantan Wakil Presiden RI mengatakan harga bensin sebesar 6 kali biaya SMS. Saya bukan berniat untuk memperkeruh situasi dan mencari-cari masalah untuk dibesar-besarkan melainkan untuk mengingatkan arti “pengayaan” bagi kehidupan kita semua. Insan yang kaya tidak akan gegabah mengambil keputusan yang disertai tindakan konyol hanya karena situasi krisis seperti ini apalagi sampai merugikan banyak orang tidak berdosa demi memenuhi hasrat kotornya akan harta. Ilmu manajemenlah yang akan menuntun tiap langkah orang pintar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa harus melanggar hukum. Lamanya waktu tuk meraih kekayaan bukan alasan seseorang yang berilmu untuk melancarkan aksi kotornya itu. Waktu bagi seorang yang pandai merupakan sebuah tantangan untuk mengukur seberapa kuat perjuangan mereka dalam meraih kesuksesan maka semakin banyak ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan semakin besar kekayaan yang akan diraih. Pada akhirnya saya bertanya kepada anda semua para pembaca yang budiman, “apakah anda sudah mengumpulkan kekayaan ilmu hari ini?” Pengayaan Materi untuk kehidupan yang lebih  baik. (@garrybaldhi)

Inilah Siklus Hidup, Bertahan Hidup atau Mati

contoh rantai makanan di sawah

Dulu sewaktu aku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas pernah kuenyam salah satu ilmu yang khusus mempelajari hubungan mahluk hidup dengan lingkungannya yang juga populer dengan nama Biologi. Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam yang kuambil kian menambah luasnya wawasanku kala itu dengan dukungan orang tua tentunya. Ilmu Biologi yang kukenal umumnya membutuhkan daya tahan ingatan untuk mengingat segala bentuk objek ilmu mulai dari bakteri hingga biosfer yaitu lingkungan tempat tinggal mahluk hidup secara arti luas. Jujur Biologi bagiku sudah seperti buku komik yang sangat menarik sekali untuk dipelajari terlebih mudahnya soal latihan yang disajikan oleh buku-bukunya. Aku sendiri cenderung lebih mampu menangkap ilmu melalui membaca dan menghafal daripada mencorat-coret kertas kosong untuk menjawab soal yang berisikan soal kasus berantai. Sempat aku mencoba “mengadu” Biologi dengan ilmu-ilmu exact yang secara konsep saja sudah berbeda. Kuukur seberapa pastinya ilmu ini untuk memahami alam yang luas tanpa bantuan ilmu exact yang notabene aku lemah di sektor hitung-hitungan waktu itu. Jawabannya ternyata semua ilmu benar dan tidak ada yang menang dengan berdiri sendir sebab semua ilmu saling bersinergi yang artinya antara satu ilmu dengan ilmu lainnya tidak dapat menjawab berbagai fenomena alam atau kasus secara independen. Sekarang sang “pengendali Alam” mulai menampakkan “kesaktiannya” seperti contohnya para pakar mampu menjawab fenomena perubahan iklim dewasa ini dengan meneliti variabel-variabel dari alam, para pakar biologi juga mampu menjawab terjadinya fenomena serangan serangga tomcat yang membuat sensasinya dengan sengatan demi sengatan kepada manusia yang menyebabkan kulit korban mengalami luka seperti terbakar. Bahkan mungkin saja para pakar sudah mempersiapkan semua kesimpulannya untuk menjawab berbagai fenomena yang masih belum muncul tapi pasti akan muncul, siapa tahu? Semua hal yang baru saja itu merupakan sebuah siklus kehidupan yang terdiri dari pelaku dan habitatnya yang saling berinteraksi. Interaksi yang positif antara alam dengan mahluk hidup sudah tentu akan menghasilkan produk yang baik pula. Sebaliknya, Interaksi yang negatif terlebih jika terjadi pengurangan jumlah saja baik dari organisme atau habitat akan berdampak buruk bagi kelangsungan hidup populasi mahluk hidup. Berbicara soal keberlangsungan hidup, kehidupan manusia yang majemuk sangat menarik untuk ditelisik. Aku berfikir, mengapa kita yang umumnya sudah mampu mendapatkan sebuah hasil dari pekerjaan tetapi belum juga merasa puas untuk berhenti memenuhi kebutuhan yang terkadang bukan hak kita? Aku sering melihat fenomena-fenomena “keluarnya” tindakan manusia dari “rel” wewenangnya dalam beraktivitas di tengah masyarakat. Aku sesekali pernah melihat bahagianya seorang ketua divisi dalam sebuah organisasi kampus yang aku ikuti untuk bertindak semena-mena terhadap adik angkatannya. Aku bahkan sempat menemukan penyimpangan-pentimpangan para pelaku bisnis yang cenderung merugikan konsumen yang dibodohinya. Kejam dan tak berperikemanusiaan itulah predikat yang patut disandang oleh “oknum-oknum” jahat tersebut. Jangankan penyesalan, rasa malu pun mereka sudah tidak punya seperti seekor binatang yang mengawini induknya sendiri, ironis ! Pengalamanku ikut berorganisasi di lingkungan kampus pun sekata dengan kasus-kasus diatas. Pada saat itu aku yang masih aktif sebagai mahasiswa semester I di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Kota Yogyakarta memutuskan untuk turut serta dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan. Organisasi yang kuikuti dasarnya berbadan hukum yang bertujuan mensejahterakan anggotanya. Organisasi yang memilki dua stand toko yang berada didalam komplek kampus tersebut tiap bulannya mampu meraup keuntungan bersih Rp 1.500.000 yang kala itu masih besar nominalnya terlebih bagi sebuah organisasi kemahasiswaan. Aku sendiri yang menjabat sebagai staff bidang personalia sangat terpukau dengan prestasi tersebut. Aku merasa bangga bukan karena jumlah rupiah yang didapatkan oleh organisasi melainkan karena partisipasiku untuk meningkatkan produktivitas para anggota dan pegawainya. Awalnya kurasakan ikut berorganisasi sangat bermanfaat hingga tiba saat pembagian upah kerja pada pertengahan bulan yaitu tepatnya tanggal 10 tiap bulan. Aku yang waktu itu mendapatkan upah yang tak seberapa merasa cukup terganggu dengan ulah seorang ketua divisi bidang pemasaran yang tidak santun berpendapat dalam setiap kegiatan rapat berlangsung. Ia lebih suka mengkritik anggota bidang divisi lain ketimbang mengelola anggotanya sendiri. Tidak salah memang mengkritik tetapi bukankah tidak bijak jika kita tidak mau menerima kritikan balik dari orang lain yang ditujukan kepada kita. Aku tak pernah mengerti isi pikiran dari ketua gadungan itu tetapi yang aku tahu Ia tidak pantas menjadi pemimpin di Institusi apapun. Kekecewaanku pada akhirnya menemui titik klimaks dengan keluarnya aku dari keanggotaan organisasi tersebut di tahun 2010. Keputusanku saat itu memang terkesan kekanak-kanakan hanya karena tidak betah satu organisasi dengan ketua gadungan itu namun lebih dari itu, aku lebih baik mundur secara terhormat daripada harus mengakui gaya kepemimpinan ketua gadungan tersebut padahal nyatanya tidak baik.

Rezeki, Jodoh dan Kematian memang kita yakini sudah ditentukan oleh Sang Maha Pencipta namun lain halnya dengan Kesuksesan adalah pilihan dan hak kita semua untuk mencapainya. Aku dan pengalaman hidup yang penuh tantangan ini buktinya, dan memahami peran kita didalam sebuah siklus kehidupan ialah kuncinya. Peranku saat itu yang masih menjadi seorang “anak buah” belum mampu mengelola semua kegiatan kuliah dikarenakan minimnya pengalaman berorganisasi. Pengalaman berorganisasi memang jelas memberikan manfaatnya dalam setiap kegiatan kita tetapi manfaat organisasi tersebut akan lebih bermanfaat bila tiap-tiap pelaku organisasi yaitu kita mampu saling memberikan sumbangsihnya baik berupa pemberdayaan dan motivasi yang sesuai aturan tentunya. Peran yang kala itu sudah aku laksanakan kini beralih untuk kembali aku rencanakan. Aku menyadari peranku dalam siklus perkuliahan ini mulai mencapai tujuan yang ditandai dengan berakhirnya teori akan materi kuliah. Aku harus mulai menyusun sebuah karya ilmiah berdasarkan hasil penelitian lansung di lapangan bila aku ingin menyelesaikan jenjang studi strata satu ini. Semua Ilmu Pengetahuan yang sudah aku kumpulkan dari semester satu harus mulai kembali aku ingat untuk mendukung penyusunan karya ilmiah ini. Keputusanku untuk memulai pekerjaan itu terasa sangat pahit memang tetapi itulah siklus, aku harus melakukannya jika aku tidak ingin gagal di jenjang ini. Siklus akan terus ada di dunia ini selama setiap mahluk hidup beserta alam tempat tinggalnya saling tergantung satu sama lain. Air sebagai kebutuhan pokok organisme akan terus melakukan perjalanan panjangnya mulai dari samudera dan sumber mata air lainnya yang diuapkan oleh sinar matahari hingga membentuk gumpalan awan yang kemudian awan tersebut menurunkan hujan ketanah yang akhirnya akan kembali ke lautan. Kupu-kupu yang berperan sebagai vektor penyerbukan akan kembali menjadi kupu-kupu setelah melalui proses penetasan, perkembangan (fase ulat), dan metamorfosis (fase Kepompong). Aku yang hingga saat ini masih belum diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menjalin hubungan asmara dengan seorang wanita juga pasti akan ada saatnya nanti yang mana aku akan memiliki sebuah keluarga nan bahagia layaknya keluarga-keluarga lainnya. Inilah Siklus kehidupan, lakukan yang terbaik untuk meraih cita-cita kita atau mati dalam penyesalan. (@garrybaldhi)

Lomba Melukis Anak Berkebutuhan Khusus-Autis

Yogyakarta, 28/1/2012. Suasana pagi di pelataran depan gedung Bank Indonesia tampak sibuk. Deretan mobil para petinggi dan karyawan Bank Sentral itu satu persatu merapat di sudut parkiran. Megahnya tenda yang berisikan panggung peresmian gedung perpustakaan dan pameran seakan melambai-lambai menyambut kepada kami yang baru tiba dari perjalanan. Hiruk pikuk sang kursi dan meja yang akan menjamu para tamu dengan keempukannya kian menambah suasana “prestise” acara itu. Acara yang juga akan dihadiri oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta itu sejatinya terdiri dari rangkaian kegiatan dan salah satu acara “pamungkasnya” ialah Lomba Melukis Anak Autis. Dengan langkah pasti saya berserta adik memasuki ruangan ganti yang didalamnya tertata rapi kursi-kursi rapat para petinggi bank negara tersebut. Kami dengan sigap sesegera mungkin merias diri di dalam ruangan tersebut. Di tengah kesibukkan para peserta karawitan yang sedang berganti pakaian adat jawa, satu per satu ibu guru mulai menampakan “gejala” narsisnya. Kilatan Cahaya kamera digital mulai menyinari seisi ruangan. Sunggingan bibir yang dihiasi merahnya lipstick kian menyemarakkan aksi para guru tersebut di depan lensa kamera. Tak terasa waktu kami berdandan pun habis dan akhirnya kami sudah siap untuk tampil.

Kegiatan yang sejatinya akan dimulai setengah jam lagi kami awali dengan persiapan perangkat gamelan dan latihan kecil. Alunan gending demi gending jawa sedikit menyejukkan seisi panggung yang masih ditata oleh para petugas panggung. Panasnya udara siang itu seakan terasa sejuk dengan ketangkasan dan kekompakkan para siswa-siswi SLB Bina Anggita dalam mempersembahkan gending-gending jawa. Para tamu yang hadir pun seakan tidak rela mensia-siakan momen itu untuk mengabadikan aksi dari para Siswa-siswi SLB yang pernah berlokasi di kecamatan Gedong Kuning tersebut. Mulai dari pejabat teras hingga wartawan media massa dengan penuh antusias mengambil gambar para siswa-siswi Sekolah Luar Biasa Bina Anggita. Pada suatu waktu permainan para siswa-siswi dihentikan sejenak untuk mempersilahkan penampilan sendratari Wiwidan yang dibawakan oleh para mahasiswa Institut Seni Indonesia. Saya beserta adik saya yang sembari meneguk minuman isotonik cukup terkejut pada mulanya sebab para penari berperangai layaknya penari penyambut tamu tersebut entah apa memang budaya atau tidak mempertontonkan kemolekan pahanya didepan para tamu yang telah hadir. Tarian yang saya anggap “kurang” sopan dan layak itu seperti tidak memiliki etika layaknya tarian-tarian jawa pada umumnya. Busana berwarna putih tanpa hiasan motif batik khas Yogyakarta hanya menutupi dada hingga perut sang penari. Lembaran kain satin putih menggantung layaknya jarik selendang para putri keraton. Ketukan nada melodi dari seperangkat alat musik bambu khas daerah jawa barat menambah kesan aneh bagi saya terlebih alat musik tersebut dimainkan oleh seniman yang berpakaian bak pendeta di zaman kerajaan jawa kuno. Pada saat itu saya sadar dan bertanya pada rekan saya yang juga guru dari adik saya, “Pak, itu penari jawa apa ya?” “saya belum pernah melihat tarian jawa khususnya Yogyakarta yang terang-terangan mempertontonkan kemolekan paha bahkan kaki si penari kepada para tamu agung.” kemudian pak guru menjawab “entah mas, mungkin itu tarian baru kreasi mahasiswa itu.” Jujur saja saya yang telah lama tinggal di Yogyakarta baru kali itu melihat sebuah karya seni yang cukup membuat hati saya sedikit kacau. Betapa tidak, di dalam hati saya terus bertanya-tanya, “Apakah ada kebudayaan jawa yang tidak segan-segan mempertunjukkan salah satu bagian tubuh pelaku seni yang seharusnya dijaga dan haram dipertontonkan kepada khalayak terlebih tamu agung ?”. Pertanyaan yang masih belum terjawab hingga saat itu kini menunjukkan  kebenarannya yang harus saya akui hipotesis awal saya bahwa tarian tersebut bukan merupakan bagian dari tari adat jawa melainkan tarian hasil kreasi para mahasiswa yang menyatukan unsur jawa dengan unsur kreatifitas. Selepas tarian “aneh” tersebut acara kemudian diisi oleh sambutan-sambutan, mulai dari Ketua Deputi Bank, Stakeholder dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Yaitu Sri Sultan Hamengku Buwana X yang diselingi oleh gending-gending jawa yang dimainkan oleh para Siswa SLB Bina Anggita dengan semangat yang masih besar tentunya.

Pada penghujung acara, saya dan adik yang waktu itu usai dari toilet bergegas duduk di deretan belakang untuk menunggu puncak dari acara tersebut. Degup jantung yang saling beradu dengan cucuran peluh di siang yang panas itu menjadi “penyakit” khas saya kala ingin naik ke panggung. Bukan karena saya tidak biasa melainkan karena ada sang bapak Gubernur yang jujur saya baru bertemu langsung seumur hidup saya. “Acara selanjutnya yaitu penyerahan tabungan kepada para juara 1 lomba menggambar tingkat lanjut dalam rangka Peresmian Gedung Museum Bank Indonesia.” kata MC. “Kepada para peserta lomba untuk naik keatas panggung.” Adikku yang menjuarai lomba tersebut langsung berjalan sembari kudampingi untuk naik keatas panggung. Ada satu hal kesalahan yang mungkin tidak pernah saya pikirkan dahulu yaitu saya mengenakan kemeja non batik yang sangat mencolok kelihatannya di tengah-tengah audiens lainnya. Satu persatu hadiah diserahkan oleh Para Pejabat Bank dan GRay Pembayun yang saya juga sangat tersanjung bisa berjabat tangan langsung dengan Sang Puteri Keraton Yogyakarta. KIlatan-kilatan lampu kamera mengisi keriuhan acara itu dan iringan tepuk tangan nan semarak kian menambah kegembiraan saya dan adik. Sungguh sebuah acara yang tidak akan pernah saya lupakan sebab inilah waktunya saya dan adik untuk memberikan karya kepada bangsa dan negara melalui lomba menggambar dan melukis yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia. Terima Kasih Bank Indonesia atas apresiasinya kepada saya dan adik yang masih memberikan kesempatan kepada adik saya untuk membuktikan keterampilan seorang penyandang Autis bahwa Anak Autis bisa berkarya untuk Nusa dan Bangsa. Acara yang selanjutnya diisi dengan kegiatan Peresmian Gedung Museum tersebut, kami lanjutkan dengan kembali pulang ke rumah. (@Garrybaldhi)