Sejarah Madat di Jawa

Banyak orang menduga penggunaan narkoba, khususnya opium muncul bersamaan dengan modernisasi. Padahal, berbagai dokumen pemerintah kolonial Belanda menunjukkan, madat sudah merasuki penududuk pulau Jawa sejak abad 17.

 

madat

Madat

 

Bahkan pakar candu Henri Louis Charles Te Mechelen pada 1882 menulis, satu dari 20 orang Jawa menghisap candu, seperti yang tercantum dalam buku Opium to Java karya James R Rush. Kebiasaan menghisap candu pun tidak hanya terjadi di Jawa, tetapi juga di sejumlah wilayah koloni Eropa di Asia, tulis Te Mechelen yang waktu itu menjabat sebagai inspektur Kepala Regi Opium dan asisten Residen Juwana di wilayah Jawa Tengah masa kini. Opium memang tidak tumbuh di Jawa, tetapi didatangkan oleh para saudagar Arab yang terkenal sebagai pedagang madat di daerah lain,  diduga dari Turki dan Persia. Ketika itu Papaver somniverum sudah menjadi komoditas penting dalam perdagangan di Asia Tenggara. Tak heran bila madat menjadi komoditi yang diperebutkan oleh Inggris, Denmark, dan Belanda. Namun, pada akhirnya, Belandalah yang memenangkan monopoli perdagangannya, sementara pelaksanaannya dilakukan para elit China di Jawa.

Monopoli Perdagangan.

Pada 1677, Belanda melalui VOC mengadakan perjanjian dengan raja Amangkurat II dari Mataram untuk mendapatkan hak monopoli atas importasi dan perdagangan madat di wilayah kerajaan Mataram. Setahun kemudian, Cirebon melakukan perjanjian serupa diikuti oleh Kerajaan-kerajaan lain. Inilah awal dari monopoli importasi dan perdagangan madat di Pulau Jawa. Selanjutnya kolonial Belanda memperluas cakupan perjanjian sampai akhirnya meliputi seluruh wilayah tanah air. Seiring dengan itu perdagangan madat pun terus meluas dan mengalami peningkatan. Terbukti dalam kurun waktu 180 tahun (1619 – 1799) VOC telah mengimpor dan memperdagangkan 10.080 ton opium mentah ke Jawa atau sekitar 56.000 kg opium mentah per tahun.

Sejatinya jumlah madat mentah yang masuk dan diperdagangkan di Pulau Jawa jauh lebih besar dari jumlah tersebut. Rentannya pantai utara pulau Jawa terhadap penyelundupan dan tidak efektifnya pengawasan polisi Belanda menjadi penyebab tingginya jumlah madat yang masuk ke Jawa. Opium masuk secara luas khususnya di daerah pantura Jawa dengan sederet pelabuhannya serta di Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta yang padat penduduknya. Di Yogyakarta saja, pada 1820, terdapat 372 tempat penjualan madat resmi yang mendapatkan lisensi dari pemegang monopoli, seperti pos dan sub pos bea cukai, serta pasar di Kasultanan Yogyakarta. Dengan diberlakukannya sistem tanam paksa dan Belanda mendirikan bandar-bandar madat resmi di sebagian besar pedalaman pulau Jawa pada 1830, madat menjadi lebih banyak tersedia sehingga penggunaannya pun dengan cepat meluas.

Gaya Hidup

Penikmat candu tersebar di berbagai kalangan dan meluas di Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jawa Timur. Pada waktu itu, menghisap madat sudah termasuk gaya hidup bukan hanya penduduk perkotaan, tetapi juga penduduk pedesaan Jawa. Di Jawa Tengah, tamu laki-laki disuguhi madat pada pesta-pesta kaum bangsawan. Dalam masyarakat desa dan perkebunan yang lebih bersahaja, perayaan-perayaan yang menandai berakhir panen padi atau dimulainya masa petik kopi, sering kali disertai dengan dibagikannya madat di kalangan kaum laki-laki. Menurut warga Bojonegoro pada 1890 pada pesta di desa-desa sudah menjadi kebiasaan bagi tuan rumah untuk menyediakan madat bagi orang-orang yang menghisapnya. Para pamong desa yang hadir pun dijamu madat.

Madat juga menarik bagi orang-orang seperti musisi. pengembara, pemain teater rakyat, pedagang keliling, tukang, dan pekerja upahan yang jumlahnya terus meningkat, seperti para pemasang rel kereta api, pemetik buah kopi, pemotong tebu dan pengangkat barang-barang impor dan ekspor. Mereka umumnya memakai candu untuk menikmati sensasi khayalan, merajut mimpi dan mengurangi pegal-pegal di badan. Bagi kalangan Belanda, penggunaan madat diasosiasikan dengan perilaku buruk orang-orang Indo dan penduduk daerah kumuh perkotaan. Namun di kalangan etnis China, madat merupakan gaya hidup dari orang China kaya yang menikmati pipa madat di rumah-rumah mereka dan klub-klub madat pribadi. Hanya sedikit etnis China kaya di Semarang yang bebas dari madat. Bahkan suatu kehormatan bagi tamu-tamu di rumah etnis China bila mereka ditawari madat.

Walaupun secara individual orang etnis China mengonsumsi madat lebih banyak dibandingkan orang pribumi, bahkan pecandu madat terparah adalah etnis China, tetapi mereka hanyalah bagian terkecil dari pasar madat. Sebagian besar madat dikonsumsi oleh orang jawa. Hal berbeda terjadi di Banten dan tanah Pasundan. Di kedua wilayah tersebut jumlah pecandu sedikit. Budaya, moral, dan agama Islam yang kuat di kalangan masyarakatnya telah menjadi benteng yang memagari opium di wilayah tersebut. Bahkan, pada abad 19, tanah pasundan dan Banten tertutup bagi perdagangan opium dan tidak boleh ada Bandar opium resmi. Menurut james R Rush ketika kemudian Belanda berhasil membuka perdagangan madat di wilayah tersebut, jumlah pemakainya pun jauh lebih kecil dibandingkan daerah lain seperti Surakarta, Yogyakarta, Kediri, Madiun, Rembang, Kedu, Pasuruan, dan Probolinggo.

Analgesik

Pada 1680, dokter asal inggris thomas Syndenham pernah menulis, “Diantara semua obat-obatan yang disediakan bagi manusia atas perkenaan Tuhan, tidak ada yang semanjur dan seuniversal opium untuk meringankan penderitaan”. Secara klinis, sampai saat ini morfin (turunan dari opium) adalah obat paling unggul untuk menghilangkan rasa sakit dan dipergunakan sebagai pengobatan resmi, meskipun penyalahgunaannya juga meluas di seluruh pelosok dunia. Karakter analgesik opium yang dapat meredakan rasa sakit inilah yang diduga menjadi penyebab benda itu disukai orang Jawa. Maklum, pada masa itu fasilitas layanan kesehatan tidak memadai dan lingkungan tinggal yang tidak sehat menyebabkan banyak penyakit merebak di masyarakat seperti diare, malaria, tipus, campak, dan demam.

Hal tersebut pun dibuktikan dalam suatu survei di kalangan pemakai pada 1890. Banyak yang mengaku, awalnya mereka mencoba opium untuk meringankan penderitaan atas keluhan sakit kepala, asma, demam biasa hingga malaria, disentri, tuberkulosis (batuk berdarah), menghilangkan letih-lesu, bahkan mengobati penyakit kelamin. Sementara di kalangan para seniman yang harus begadang karena pekerjaan, seperti sinden, dalang, penari, dan pemain teater, madat diyakini dapat membuat mereka kuat terjaga dan tetap bugar. Bahkan sempat ada anggapan, nyeret dapat meningkatkan vitalitas, gairah seksual, dan euforia, sampai-sampai tertulis dalam syair Jawa “Suluk Gatoloco” karya priyaji Jawa yang menguasai tradisi dan mistik. Gatoloco tokoh dalam syair itu, berwujud kelamin laki-laki yang membentengi diri dengan menelan opium dan merasakan kekuatan candu yang memabukkan tersebut menyebar keseluruh tubuh dan membuat seluruh kekuatannya kembali.

Antimadat

Meski penggunaan candu meluas di kalangan masyarakat Jawa, namun sebenarnya pandangan orang Jawa terhadap candu tidaklah sama. Pada masa itu pun sudah ada kelompok antimadat yang berjuang untuk memeranginya dan menabukan candu dengan memasukkannya pada larangan ”molimo”. Molimo adalah ajaran moral yang melarang kaum laki-laki berbuat lima kegiatan yang berawalan dengan huruf M, yaitu maling (mencuri), madon (main perempuan), minum (alkohol), main (berjudi) dan madat (menghisap candu). Penguasa Surakarta Raja Paku Buwono IV yang memerintah pada 1788 – 1820 pun menuliskan ajaran moral yang benar dalam syair panjang Wulang Reh (ajaran berperilaku benar). Ia menggambarkan pemadat sebagai pemalas dan orang yang bersikap masa bodoh, yang hanya gemar tidur di bale-bale untuk menghisap candu. “Jauhi madat, madat tidak baik untukmu semua, menghisap madat itu tidak baik”. tulisnya.

Di pihak Belanda juga tumbuh gerakan etis sejak 1880, yang dilakukan untuk meningkatkan kemakmuran warga, termasuk pribumi. Tahun-tahun etis tersebut ditandai dengan perluasan kesempatan pendidikan bagi penduduk dan upaya perbaikan kesejahteraan lainnya termasuk peraturan mengenai peredaran madat. Pada masa itu Belanda membentuk suatu lembaga khusus, bernama Regi, untuk meluruskan kesalahan di masa lalu. Sejak itu semua urusan opium dipusatkan di Ibukota, juga pabrik-pabrik opium yang dulu tersebar di daerah dan dikuasai para bandar yang menghasilkan produksi dengan variasi luas, baik dari kualitas dan citarasa, kini dipusatkan di Batavia dalam bentuk produksi yang seragam. Birokrasi dalam pembuatan dan peredaran opium juga mulai ditetapkan untuk mengantisipasi penyalahgunaannya. Dengan adanya sistem tersebut, tren total peredaran opium di Indonesia pun turun. Sayang, seiring waktu dengan merdekanya bangsa Indonesia dari penjajah juga membuat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba semakin merajalela. Bahkan jenisnya pun semakin beragam. Bila dulu opium atau madat, kini ekstasi dan sabu yang menjadi tren. Hal itu pun membuktikan perang candu masih terus bergulir dan diperlukan keseriusan untuk mengatasinya dengan sungguh-sungguh. (SINAR BNN Edisi VII/2011)

About these ads

Perihal Souvenir From Monaco
Selamat Datang.. Salam Blogger..!! ^_^

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: